Pancasila Melawan Radikalisme Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni

BAGIKAN:


Kupang. Kejadian bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta Kamis, 24 Mei menambah panjang rentetan perilaku kelompok masyarakat yang benar-benar biadab, dikecam oleh semua orang yang masih mempunyai rasa kemanusiaan.

Hanya kelompok bomberlah yang merasa senang, puas dan menang bisa membunuh orang yang dibenci dan dianggap musuh-musushnya. 

Mereka adalah sebagian dari saudara kita yang bisa dipastikan menganut radikalime mungkin ekstrim kanan atau kiri sebagai ideologinya yang intoleran dengan ujungnya tindakan anakistis dan terorisme.
Semakin maraknya terorisme dan sikap intoleransi pasca reformasi tahun 1998, selain pengaruh global, harus disadari tidak terlepas dari sikap pemerintah dan masyarakat yang mengabaikan dan tidak merawat ideologi Pancasila. 

Dibubarkannya lembaga BP7 yang bertugas menatar masyarakat melalui Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) merupakan wujud kebencian produk Orde Baru yang berakibat fatal kepada sikap ikut membenci Pancasila.

Para pejabat dan masyarakat waktu itu alergi dan enggan menyebut Pancasila.
Jika mengatakan dan berpidato dengan menyebut Pancasila takut dianggap penganut dan pendukung Orde Baru. Yang parah lagi, di perguruan tinggi mata kuliah Pancasila dihapuskan.

Upacara bendara di kantor-kantor pemerintah setiap tanggal 17 juga ditiadakan, karena Pancasila selalu dibaca dan itu tradisi warisan Orde Baru.

Gagal pikir dan gagal paham pemerintah dan masyarakat waktu itu karena nafsu eforia bahwa semua produk Orde Baru dinilai tidak sejalan dengan tuntutan reformasi dan demokratisasi
.
Lembaga (BP7) boleh salah, boleh keliru karena metodenya doktriner yang kemudian dibubarkan, tetapi nilai-nilai Pancasila tidak ada yang salah, Pancasila sebagai ideologi tidak berubah.
Marilah kita baca ulang 45 Butir-butir Pancasila yang waktu itu diajarkan kepada masyarakat, tidak ada yang buruk, semua baik dan sejalan dengan semua ajaran moral agama apapun.

Pendidikan dan sosialisasi Pancasila yang diabaikan beberapa tahun pasca reformasi memberi kesempatan munculnya kembali ideologi lain non Pancasila baik ideologi lama yang tiarap selama Orde Baru maupun ideologi kemasan baru yang dimunculkan melalui pendirian organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama maupun non agama. 

Ideologi yang muncul menggunakan kesempatan Pancasila yang diabaikan umumnya berwajah ideologi radikal yang menyisir dan menyasar ke anak-anak muda yang lagi haus dan kosong akan pegangan hidup sebagai warga negara dan lagi mencari identitas. 

Lihatlah para pelaku bom bunuh diri umumnya anak-anak muda di bawah umur 40 tahun.
Pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu yakni Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukri masing-masing berumur 31 tahun.

Usia-usia ketika remajanya ideologi Pancasila diabaikan oleh pemerintah dan masyarakat.
Ketika reformasi bergulir pelaku bom bunuh diri baru berusia sekitar 15 tahun, usia yang mudah untuk dibentuk dan dipengaruhi oleh ajaran-ajaran baru non-Pancasila yang marak dengan berkerudung dan berkedok ajaran agama yang sebenarnya lebih berat sebagai gerakan politik daripada gerakan dakwah.

Kini, ideologi radikal yang bermakna negatif semakin berani bergerak lantaran hadirnya ISIS di Suriah yang berpengaruh besar dan menarik anak-anak muda Indonesia bergabung dengan ISIS.
Menurut catatan Kapolri, sepanjang tahun 2016 ada 600 lebih WNI yang berangkat ke Suriah dengan berbagai cara untuk bergabung dengan ISIS.

Mereka yang pulang ke Indonesia sebagai kader-kader ISIS secara diam-diam (gerakan bawah tanah) tetapi terorganisir, menyebarkan ajaran radikal tersebut dengan sasaran anak-anak muda yang lagi mencari identitas diri dan kebingungan pegangan ideologi serta didukung oleh kondisi ekonomi keluarga yang kurang baik.
Pada umumnya gerakan dan ideologi radikal akan efektif diterima oleh mereka yang sedang kecewa dengan kehidupannya, tidak puas dengan lingkungannya, krisis pegangan hidup dan krisis ekonomi yang dialaminya.
Tantangan pemerintah dan masyarakat ke depan adalah bagaimana agar ideologi radikal yang berkedok ajaran agama (Islam) tersebut tidak semakin berkembang dan bakal menjadi ancaman yang sangat serius bagi keberadaan dan kesinambungan NKRI. 

Pertama, ideologi harus dilawan dengan ideologi.
Tidak ada jalan lain bahwa Pancasila sudah harga mati sebagai ideologi negara dan bangsa, sebagai dasar negara, sebagai falsafah dan pegangan hidup bangsa, sebagai kepribadian bangsa, dan sebagai konsesus dasar bangsa.

Mengacu istilah Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna, Pancasila sudah final sebagai ideologi negara sehingga NKRI dengan dasar Pancasila sudah tepat, sudah selesai, sudah tuntas, sudah paripurna, tidak perlu didebatkan lagi. 

Sebagai Ideologi terbuka, Pancasila bisa dikaji oleh siapa pun dan dengan cara apa pun akan ditemukan nilai-nilai yang sejalan, senafas, seirama dan dilandasai oleh nilai-nilai ajaran agama apa pun dan ajaran moralitas apa pun. 

Oleh karena itu, jika ada pihak-pihak yang masih berkeinginan akan mengganti ideologi Pancasila harus dilawan bersama dengan menyebarkan, mengajarkan dan sosialisasi Pancasila tiada henti dari generasi ke generasi yang selalu berganti dengan berbagai metode yang menarik sesuai tuntutan dan perkembangan jaman.

Harus diakui sejak BP7 dibubarkan tiada lembaga yang secara khusus melakukan sosialisasi Pancasila secara serius dan efektif kepada masyarakat sehingga wajar jika perilaku masyarakat masih belum sejalan dengan nilai-nilai Pancasila bahkan ada yang menyimpang seperti munculnya radikalisme dan perilaku intoleransi.

Institusi Pemerintah yang bertugas melakukan sosialisasi Pancasila adalah Kementerian Dalam Negeri dan MPR sebagai tugas tambahan.

Namun lembaga-lembaga itu tidak melakukan secara terencana dan terpogram, baik dari sisi kurikulum/materi, metode, penatarnya maupun sasarannya juga belum menyentuh kepada pihak-pihak atau masyarakat yang rentan disusupi dan diajari ideologi non Pancasila, seperti ideologi radikal yang berpayung ajaran agama.

Keinginan pemerintahan Jokowi membentuk Badan Pemantapan Pancasila yang akan diberi nama Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) di bulan Desember 2016 merupakan langkah yang baik, patut diapresiasi dan perlu segera diwujudkan kendatipun dapat dikatakan sudah terlambat.

Namun disayangkan, gema pembentukan lembaga tersebut sampai sekarang belum terdengar tindak lanjutnya. 

Di sisi lain, ideologi yang ingin mengganti Pancasila terus bergerilya mengembangkan ajarannya di kalangan anak-anak muda sebagai kader dan kekuatan untuk melawan negara Pancasila.
Jadi, ideologi radikal harus dilawan dengan ideologi Pancasila, artinya Pancasila harus diwujudkan dalam perilaku bangsa Indonesia dan para penyelenggara negara.

Untuk sampai ke sana, memahamkan masyarakat tentang Pancasila menjadi hal yang sangat penting.

Dan hal itu hanya efektif jika diurus dan ditangani oleh lembaga yang dibentuk khusus untuk itu, bukan hanya sekedar tugas sambilan atau tugas tambahan bagi institusi tertentu.
Untuk itu, Pancasila harus bisa dijabarkan dan dioperasionalkan dari wujud ajaran filosofis menjadi ajaran yang praktis sebagai pedoman berperilaku dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan tuntutan jaman. 

Bila pinjam istilah ajaran Tamansiswa, sifat harus tetap tetapi bentuk, isi dan irama bisa disesuaikan dengan situasi lingkungan dan perkembangan zaman sehingga selalu up to date.
Rumusan 45 Butir-butir P4 sebagai pedoman praktis bagi masyarakat harus kembali dibuka dan dipelajari serta masih bisa dijabarkan lebih lanjut agar menjadi lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan, misalnya dipadukan dan diselaraskan dengan nilai-nilai lokal maupun keagamaan yang bersifat universal.

Selain itu, para penyelenggara negara yang bertanggung jawab atas keberadaan dan kesinambungan NKRI harus bisa dijadikan panutan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam perilakunya sehari-hari baik selaku pribadi dan pejabat. 

Penyelenggara atau pejabat negara yang ber-Pancasila akan bersikap adil, berperikemanusiaan, toleransi, tidak korupsi dan perilaku-perilaku baik dan budi luhur lainnya. 

Demikian juga pihak-pihak yang dikategorikan sebagai pemimpin masyarakat seperti tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pendidik, dosen, pengusaha, seniman, budayawan, dan lain-lain hendaknya bisa sebagai ujung tombak dalam ikut berperan melawan ideologi radikal melalui pengamalan Pancasila yang konkrit di bidang tugasnya dan profesinya masing-masing.
Hal yang tidak kalah penting adalah nilai-nilai Pancasila harus bisa tergambar,terwujud atau direalisasikan dalam kebijakan pemerintah yang adil dan bisa membawa masyarakat menjadi sejahtera secara ekonomi dan sosial. 

Pembangunan yang berlandaskan Pancasila harus bisa berdampak kepada meningkatnya martabat dan harkat hidup masyarakat miskin, bisa memanusiakan manusia Indonesia.

Hal ini untuk menunjukkan dan meyakinkan kepada rakyat bahwa Pancasila bukan sekedar rumusan mati sebagai penghias dinding, jargon dan slogan untuk dihapalkan saja, tetapi Pancasila memang mampu dijadikan landasan berfikir membangun sistem ekonomi yang benar-benar dapat mengentaskan dan menuntaskan kemiskinan rakyat.

Kemiskinan dan ketidakadilan merupakan ladang subur berkembangnya ideologi radikal baik kiri maupun kanan sekaligus juga mudah menjamurnya sikap-sikap dan perilaku negatif lainnya seperti perilaku kriminalitas dan bentuk-bentuk agresif atau perlawanan lainnya baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. 

Inilah pekerjaan rumah yang harus dibuktikan oleh Pemerintah.
Akhirnya, selamat memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni semoga dengan peringatan kali ini bisa dijadikan momentum meneguhkan bahwa Pancasila harus diamalkan agar mampu melawan dan mengalahkan radikalisme yang bisa berujung kepada terorisme.

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,alumni MAN Ende,1,AMAN Flobamora,1,AMAN Nusabunga,1,Anies,1,APBN,2,apel gelar pasukan,1,ASDP,1,ASF,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Babi,1,Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo - Flores,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bandara H Hasan Aroeboesman,1,banjir,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,bantuan beras kapolri,1,bantuan rumah,1,bantuan sosial,1,Basarnas Maumere,1,batik,1,Bawaslu,1,Bawaslu Ende,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Benny K Harman,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,BLT,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,8,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,camat nangapanda,1,CFD,1,Citilink,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,31,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Danau Kelimutu,1,Deklarasi,2,demo sopir angkot,1,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dharma Lautan Utama,1,Dihapus,2,Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende,1,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,4,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,3,DPT,2,Dunia,1,Dusun Numba,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,235,Ende lio,1,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Esports Indonesia,1,Esthon Funay,2,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,FKUB ENDE,1,Flores,234,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Ganjar Pranowo,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,Gerindra,1,GMNI,4,GMNI Ende,1,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hari Raya Idul Fitri,2,Hari santri,1,Hate Speech,3,Headline,1494,Hewan Kurban,1,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,HMI Ende,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI,1,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Iptu Yohanes Lede,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,jembatan Uma Sawa,1,Johan Fredikson Yahya,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Julie Laiskodat,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,kades Jegharangga,1,Kadin,2,KAHMI,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,2,Karel Lando,1,Karhutla,1,kasus pidana,1,Kawasan hutan industri,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,2,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,khitanan massal,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,8,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,33,KPK,4,KPU,1,KPU Kabupaten Ende,1,KPU NTT,1,KPUD Ende,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,13,La Nyalla,1,lagi daerah Ende Lio,1,larantuka,2,LDII,1,lebaran ketupat,1,Lembata,574,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,lomba pop singer,1,Lombok,3,Longsor,1,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,madama,1,Madrasah Negeri Ende,1,Magepanda,1,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,makanan kadaluarsa,1,Makar,3,Maksimus Deki,1,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,masyarakat adat,1,Maxi Mari,1,Maxim,2,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mensi Tiwe,2,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,Minyak Goreng,1,Minyak Tanah,1,MK,2,Moeldoko,4,Moke,1,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,muswil VIII Muhammadiyah NTT,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1880,Nasionalisme,25,Natal dan Tahun Baru,3,Nataru,2,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,11,NU,6,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,onekore,1,operasi lilin,1,Operasi Turangga,2,Opini,214,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,46,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Paralayang,1,Pariwisata,4,Pariwisata Flores,1,paroki onekore,1,Partai Berkarya,1,Partai Gerindra,1,partai Perindo,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,pekerja migran,1,Pekerja Migran Indonesia,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Sekosodo,1,Pelangi Nusantara,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilihan Wabup Ende,1,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pemilu 2024,10,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,persatuan bangsa,1,persatuan dan kesatuan,1,persatuan Indonesia,3,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,pesta demokrasi,1,Petani,1,Philipus Kami,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,Pilkades Ende,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKP,1,PKS,2,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,3,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,8,Polri,3,Polsek Detusoko,1,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,PT Asia Dinasti Sejahtera,2,PT Pratama Yahya Abadi,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RD SIPRI SADIPUN,1,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Restorative justice,1,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,RS Pratama Tanali,1,Rumah janda,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,39,Sandiaga Uno,1,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,serbuan vaksin maritim TNI AL,1,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,134,Siklon tropis Seroja,1,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Sriwijaya SJ-182,2,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,83,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,44,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,49,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,9,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Turnamen Futsal,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,UMKM,1,Vaksin Covid-19,3,Vaksin Sinovac,2,Virus Babi,1,Wakil Bupati Ende,2,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,Yohanes borgias Riga,2,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Pancasila Melawan Radikalisme Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni
Pancasila Melawan Radikalisme Memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw0KtmcuYHwtzNF1sypDYbvhc-THUOqdDsjlFPZTtZhDtPuIS13lF3DgiCq0o71EvlW4ffZBlfP2DiEr1Woxf6TPem4UQgLivATXx03VkYap8FwhjtMWLO0giwn2iwHx5TzqG4Rz7EPJVK/s1600/warta+ntt+7.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw0KtmcuYHwtzNF1sypDYbvhc-THUOqdDsjlFPZTtZhDtPuIS13lF3DgiCq0o71EvlW4ffZBlfP2DiEr1Woxf6TPem4UQgLivATXx03VkYap8FwhjtMWLO0giwn2iwHx5TzqG4Rz7EPJVK/s72-c/warta+ntt+7.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2017/06/pancasila-melawan-radikalisme.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2017/06/pancasila-melawan-radikalisme.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin