Memberantas Radikalisme Tanpa Pamrih

BAGIKAN:


KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam esainya, Tugas NU dan PKB dalam Politik Nasional, pada 6 Desember 2004, pernah membuat pernyataan yang mungkin membuat sebagian orang tersedak: “…ada kecenderungan pengurus NU adalah orang yang kalah saing dalam PKB, yang membuat mereka lalu berorientasi politik praktis.”

 Gus Dur membuka esai tersebut dengan mengulas polemik Prof. Alwi Shihab yang masuk kabinet SBY-Jusuf Kalla sebagai Meko Kesra, di tengah posisinya sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz. Bagi Gus Dur, karena beberapa hal, Prof. Alwi dianggap tidak sedang mewakili PKB, ia jadi menteri karena dapat telepon langsung dari JK.

Berbicara tentang teritorial politik PKB, kata Gus Dur, berarti pula bicara peran NU dalam kancah politik Nasional. Membicarakan PKB tanpa menyinggung NU dianggap sesuatu yang mustahil, karena PKB itu sendiri merupakan bagian independen NU dalam politik praktis. Meski politik NU sejujurnya tak sepragmatis itu.

NU dan Kesetiaan pada Nasionalisme

Gus Dur menegaskan bahwa orientasi NU tetaplah, terutama, bidang pendidikan dan pemikiran keagamaan. Radikalisme, misalnya, termasuk ke dalam pemikiran keagamaan. Jika teritori kekuasaan mesti menjadi otoritas untuk mengkonter gerakan radikal, maka apapun alasannya, itu tetap berada di wilayah politik praktis.

Radikalisme kemudian hanya komoditas belaka, menjadi tameng untuk mendapat posisi dalam pemerintahan. Melindungi Negara lantas menjadi pamrih atas posisi tersebut. Alih-alih membuat paham radikal musnah, justru radikalisme itu sendiri kini kian masif karena pemberantasannya diwarnai sebuah transaksi politik.

Konsistensi NU dalam setia kepada Negara, adalah sesuatu yang tidak perlu diragukan. NU tahu bahwa sementara Nahdhiyyin menjadikan organisasinya sebagai komoditas politik, dengan dalih melindungi Negara dari radikalisme. Jika demikian, maka benar kata Gus Dur, dalam esai tersebut, bahwa mungkin yang diperlukan ialah “pembenahan personalia”.

Bagi beberapa kalangan, bisa jadi itu adalah berita buruk. Keterlaludalaman sementara Nahdhiyyin mengintervensi kebijakan pemerintah juga disikapi pro dan kontra. Ada yang mengatakan, itu demi Negara. Yang lainnya berpendapat, itu sudah keluar dari khitah. Apapun alasannya, melindungi Negara dari radikalisme sesungguhnya adalah ‘tugas umum’ warga negara.

Nahdhiyyin dan Narasi Publik

Kita mungkin tidak akan berani mengatakan bahwa sementara Nahdhiyyin sudah melangkah melampaui koridor ke-NU-an, karena beberapa alasan misalnya. Tetapi kita juga tidak memiliki hak untuk memonopoli narasi kontra-radikalisme itu sendiri. Membela Pancasila, melindungi Negara, adalah wajib, tanpa perlu imbalan apa pun.

Ketika PBNU mengatakan, kiai-kiai protes karena Presiden Jokowi memilih Fachrul Razi, purnawirawan militer, untuk menjadi Menteri Agama, publik sejatinya tengah digiring untuk menyangsikan kemampuan pemerintah. Keberatan tersebut, seperti juga ditegaskan oleh Gus Sholah, adik Gus Dur, adalah sesuatu yang mesti dipertanyakan.

Dalam reaksi lain, seperti dilansir Tempo, ketika Menteri Agama tidak dilibatkan dalam perayaan Hari Santri Nasional lantaran belum pernah memakai sarung, sebenarnya itu adalah alasan yang sentimentil. Apalagi bila sampai berujar tidak lagi mengurus radikalisme, itu adalah arogansi kuantitas yang luar biasa.

Memang benar apa yang diterangkan oleh KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI, bahwa keberatan sementara Nahdhiyyin tersebut bukanlah tidak berdasar. Tindakan militerisasi untuk memberantas radikalisme adalah kekhawatiran utama, dengan diangkatnya Menteri Agama dari kalangan militer.

Bagaimanapun, radikalisme adalah persoalan yang kompleks. Memberantas secara militer adalah penanganan hilir, tetapi tidak menghanguskan yang di hulu, otak dari segala paham radikal tersebut. Sedangkan langkah Nahdhiyyin disinyalir sebagai pemberantasan persuasif, membunuh ideologinya; sebuah penanganan langsung di akar.

Sayangnya ada yang lupa disampaikan, atau sengaja tidak dikemukakan, bahwa antara NU dan pemerintah masih punya pilihan lagi, yaitu kerja sama. Sementara Nahdhiyyin memang lebih memilih untuk tetap menggiring opini publik: bahwa presiden telah keliru menunjuk Menteri Agama, dan tanpa NU, Negara akan tetap darurat radikalisme.

Jalan Tengah

Andai terlepas dari segala kepentingan bagi-bagi jatah kekuasaan, jalan tengah sebenarnya terbentang untuk dipraktikkan. Melindungi Negara, memberangus radikalisme, adalah PR bersama. ‘Perang total’ melawan radikalisme tidak harus digelar dengan memasang meriam di istana. NU pun tetap bisa berada di garda terdepan, tanpa menduduki kementerian.

Radikal sebagai sebuah isme, memberantasnya adalah tugas pemerintah. Sementara sebagai sebuah ideologi, Nahdhiyyin adalah para aktor pembasminya. Kerja sama ini jelas lebih proporsional, NU tetap berada di khitah “memberi advokasi demi kepentingan orang banyak,” seperti diuraikan Gus Dur dalam esai tersebut.

Melindungi Negara dari paham radikal memanglah keniscayaan bersama. Ia bukan persoalan yang hegemonik organisasi tertentu, begitupun dengan membela negara. Dalam hal ini, Gus Dur menawarkan suatu pemecahan, yaitu musyawarah, dengan landasan firman Allah dalam surah asy-Syura [42]: 38, “…wa amruhum syura baynahum…”

Penggiringan narasi publik untuk menyalahkan pemerintah bukan ide yang bagus, justru akan semakin membuat tumbuh-subur radikalisme. Jika Nahdhiyyin ingin kembali ke barak, seperti penguatan internal organisasi, tidak berarti harus dengan melepaskan sepenuhnya pemberantasan radikalisme ke pemerintah.

Pertimbangan keterlibatan NU dalam persoalan nasional berasaskan tugas mulia menjaga keutuhan Negara, dari segala problematika sosial yang dihadapi bangsa. Jika membela masih memerlukan pamrih, maka patut direnungkan kata-kata Gus Dur, jangan-jangan “NU asyik bermain politik praktis di tingkat nasional dan melupakan hal-hal di atas.”

Wallahu A‘lam bi ash-Shawab

 

 

 

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,Anies,1,APBN,2,ASDP,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,batik,1,Bawaslu,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,2,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,2,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,CFD,1,coklit KPU,2,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Deklarasi,2,Denny Siregar,2,Dewan Masjid Indonesia,2,Dihapus,2,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,1,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,1,DPT,2,Dunia,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,30,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,Flores,41,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,GNPF MUI,1,Golkar,1,Golkar NTT,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hate Speech,3,Headline,1484,Hiburan,12,HMI,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,Kadin,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolri,1,Karhutla,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,1,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,3,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,30,KPK,3,KPU,1,KPU NTT,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,11,La Nyalla,1,larantuka,2,LDII,1,Lembata,203,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,Lombok,3,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,Makar,3,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,16,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,MK,2,Moeldoko,4,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,Nagekeo,24,nas,1,Nasional,1877,Nasionalisme,25,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,9,NU,5,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,Opini,211,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,45,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Pariwisata,3,Pariwisata Flores,1,Pasar,1,pasar modal,1,Paspampres,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,Petani,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKS,1,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,2,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polri,3,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Strategis,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,44,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,11,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,130,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Startup,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,20,sumba barat,5,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,39,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,48,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,7,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Memberantas Radikalisme Tanpa Pamrih
Memberantas Radikalisme Tanpa Pamrih
https://1.bp.blogspot.com/-OvKNGhzgQi0/XcZ0uTRikkI/AAAAAAAAOyg/SRlFlCW_lm0qxM39RmM0xEC2qKTIdzZYQCLcBGAsYHQ/s320/Basmi%2BRadikalisme.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-OvKNGhzgQi0/XcZ0uTRikkI/AAAAAAAAOyg/SRlFlCW_lm0qxM39RmM0xEC2qKTIdzZYQCLcBGAsYHQ/s72-c/Basmi%2BRadikalisme.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2019/11/memberantas-radikalisme-tanpa-pamrih.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2019/11/memberantas-radikalisme-tanpa-pamrih.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin