Kampus Harus Bebas dari Radikalisme

BAGIKAN:




Kupang. Pada setiap tanggal 20 Mei, bangsa kita memeringati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Pada tahun ini, kita merayakan Harkitnas yang ke 109 tahun. Harkitnas merupakan hari yang menjadi momentum perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang ditandai dengan kelahiran organisasi Budi Oetomo pada tahun 1908.

Kebangkitan nasional merupakan bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan serta kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk memajukan diri melalui gerakan organisasi yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial dan menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Momentum Harkitnas harus menjadi saat kebangkitan seluruh warga Indonesia, termasuk dunia kampus untuk merefleksikan kembali upaya atau perjuangan mempertahankan kesatuan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apakah kita sudah bergerak pada jalur yang benar? Ataukah pergerakan kita lebih banyak diwarnai oleh upaya disintegrasi dalam bentuk radikalisme dan anarkisme. Oleh karena itu, pada momentum Harkitnas ini kita semua, teristimewa kampus perlu membangun komitmen supaya membebaskan diri dari radikalisme, anarkisme dan pelbagi bentuk kekerasan lainnya. Kampus harus menjadi taman pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Kampus harus menjadi sumur inspirasi bagi para dosen dan mahasiswa untuk menimba ilmu dan pengetahuan, tempat yang ramah dan kondusif untuk belajar bersaing secara sehat dan berinteraksi sosial secara konstruktif. Kampus harus menjadi tempat berlangsungnya General Education.

Kampus sebagai Locus General Education
Semua komponen masyarakat terus berupaya untuk membebaskan kampus dari pelbagai bentuk tindakan radikal. Pada hari Sabtu, 5 Mei 2017, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT), Suhardi Alius, memberikan kuliah umum dengan tema 'Penguatan Karakter dan Prestasi Mahasiswa Bidikmisi untuk Meraih Reputasi' di Universitas Negeri Semarang. Pada kesempatan tersebut, Menteri Nasir mengatakan bahwa kampus harus bebas dari radikalisme, narkoba, dan kekerasan 

Penegasan menteri ini menjadi sangat urgen karena jika perilaku tersebut dipelihara, maka dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Kampus harus menyatakan tekad untuk mempertahankan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1954, NKRI.

Ketika kita berpegang teguh pada keempat pilar kebangsaan ini, maka tidak ada ruang dan tempat untuk bertumbuhnya radikalisme, intoleransi, anarkisme, antipluralisme, dan diskriminasi. Jiwa nasionalisme kita tidak boleh tergerus oleh pelbagai ancaman yang merongrong persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Semua perguruan tinggi didorong supaya berperang melawan segala bentuk radikalisme, dll. Kampus harus menjadi tempat pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.

Kita sebagai suatu bangsa yang merdeka patut bersyukur karena para pahlawan telah berjuang dengan meneteskan keringat darah untuk kemerdekaan Indonesia. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa ini perlu mengisi kemerdekaan dengan memperkuat toleransi dan kerja sama yang konstruktif. Negara memberi tempat bagi mahasiswa mengekspresikan kebebasan berpendapat melalui aksi demonstrasi, tetapi dengan syarat bahwa aksi tersebut tidak boleh anarkis dan destruktif.

Oleh karena itu, para rektor dan dosen perguruan tinggi harus secara kontinu meningkatkan kesadaran para mahasiswa akan tantangan global yang harus dihadapi. Pimpinan perguruan tinggi harus bertanggung jawab terhadap kampus dengan membentuk perilaku yang positif dan konstruktif dalam diri para mahasiswa. Jangan sampai kehidupan heterogenitas kampus tercederai ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI.

Ada begitu banyak fakta yang memperlihatkan bahwa tantangan radikalisme global saat ini juga mengancam Indonesia. Kampus di Indonesia dinilai rentan disusupi paham-paham baru. Pelaku tindakan radikal paling banyak berasal dari kalangan muda yang berusia 20-30 tahun.

Institusi perguruan tinggi, baik yang umum maupun agama, kerap menjadi sasaran gerakan radikalisme. Paham radikal merupakan ancaman bagi tegaknya NKRI. Kasus kasus kekerasan atas nama agama, intoleransi, antipluralisme, diskriminasi, penyebaran paham radikal merambah masuk dalam institusi kampus.

Kampus yang selama ini dikenal sebagai tempat persemaian manusia berpandangan kritis, terbuka, dan intelek, ternyata tidak bisa imun terhadap pengaruh ideologi radikal. Radikalisme menyeruak menginfiltrasi kalangan mahasiswa di berbagai kampus, sehingga muncul kelompok ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Berhadapan dengan maraknya gerakan radikal ini, maka perlu ada suatu gerakan cerdas membendung radikalisme ini.

Gerakan itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus ada kerja sama semua civitas akademik kampus. Setiap kampus harus menjadikan radikalisme sebagai musuh bersama. Dengan cara-cara seperti ini, kita berharap radikalisme betul-betul tidak ada di kampus manapun. Dengan itu, kita hidup di Indonesia dengan nilai-nilai keragaman yang harus dipertahankan melalui sikap saling menghormati dan terus menyuburkan semangat gotong-royong.

Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme. Hal itu dapat dilakukan dengan cara merevitalisasi lembaga, badan, dan organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Organisasi-organisasi yang ada di kampus memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya paham radikal melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang komprehensif dan kaya makna. Karena itulah, konteks Nota Kesepahaman antara Badan Nasional
Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Kemenristekdikti yang diwakilkan oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan menjadi sangat strategis dalam upaya membendung radikalisme di kalangan mahasiswa (bdk. Kompas.com. 10 Mei 2017). 

Ada beberapa hal yang perlu dirumuskan secara sistematis dari kerjasama ini, yaitu : (1) kita tidak perlu mendesain ulang kurikulum menyeluruh karena hal itu mengganggu stabilitas akademis-keilmuan.

Hal mendesak yang dilakukan adalah revitalisasi mata kuliah yang bersifat "ideologis" yakni berupa pembekalan terhadap 4 (empat) pilar kebangsaan yakni Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara dan Ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Bentuk Negara, dan Bhinneka Tunggal Ika untuk membendung potensi munculnya ajaran radikal;
(2) penguatan peran dan tanggungjawab orang tua dalam menentukan keberhasilan pencegahan radikalisme. Orang tua berperan dalam menciptakan suasana harmonis dan komunikatif, menjauhi pola konsumtif dan memberikan keteladanan yang baik sesuai dengan norma agama dan sosial yang baik; (3) penerapan kualifikasi dosen pengajar agama yang tidak berafiliasi dengan organisasi radikal dan tidak berideologi radikal. Hal ini menjadi sangat penting mengingat infiltrasi ajaran radikal tidak hanya muncul dari buku ajar, tetapi dari pengajar yang memiliki perspektif radikal;

(4) penataan ulang organisasi mahasiswa dan aktivitas keagamaan yang ekslusif di kampus dengan cara menyertakan dosen pendamping yang juga tidak berafiliasi; (5) penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan kampus sebagai bahan matrikulasi sebelum mahasiswa memasuki jenjang perkuliahan.
Dengan dasar pemikiran ini, model general education merupakan alasan rasional sebagai gagasan dasar dan pemikiran solusif untuk pencegahan paham radikal di lingkungan kampus. Dalam arti bahwa mahasiswa diberi pemahaman yang bersifat "ideologis" yakni memberikan penyadaran tentang wawasan kebangsaan seperti pemahaman terhadap Pancasila sebagai landasan ideologi bangsa, memahami akan kesatuan dan persatuan melalui NKRI, memahami makna bhineka tunggal ika yakni berbeda-beda tetapi tetap satu.

General education merupakan langkah strategis, inovatif, terpadu, sistematis, serius, dan komprehensif dalam memerangi tumbuhnya paham radikal di kampus. Model pendekatan yang dilakukan bukan hanya pendekatan keamanan dan ideologi, tetapi juga memperhatikan jaringan, modus operandi, dan raison d'entre (motif lahirnya) gerakan radikal. Program deradikalisasi melalui gerakan pemanusiaan menjadi salah satu prasyarat mencegah meluasnya paham radikal. General education dilaksanakan sebelum mahasiswa memasuki proses perkuliahan dengan menanamkan nilai-nilai kebhinnekaan dan ideologi Pancasila.

Indonesia adalah negara bangsa yang multikultural dengan segala macam budaya, nilai, suku, adat istiadat dan agama. Ditengah pluralitas semacam ini, kita perlu membekali diri dengan semangat persatuan dan kesatuan, toleransi dan saling menghargai. Komunitas kampus juga perlu memperkuat persatuan dan kesatuan, sikap toleransi dan menghargai perbedaan. Hal ini akan memperkuat bangunan intelektual kampus. Upaya ini sebaiknya dilakukan dengan cara bahwa mahasiswa tidak hanya mengembangkan aspek rasional, tetapi juga harus mengasah keimanan dan spiritual.

Sebagai institusi penghasil generasi penerus bangsa, kampus harus membentengi diri dari pengaruh-pengaruh yang cenderung destruktif. Sebab mahasiswa acap kali mudah tersulut emosi dan terpengaruh oleh pemikiran pemikiran baru. Jangan sampai terjadi kekerasan di dalam kampus karena dipicu masalah sepele ataupun paham yang berbeda, terutama paham radikal.

Perguruan tinggi perlu membangun kemitraaan yang lebih strategis dan merancang secara sistematis program bersama untuk menangkal paham radikal. Selain itu, perlu melakukan kontra ideologi yang utuh dan secara massif mensosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan dengan mengembangkan konsep general education. Suatu bentuk pendidikan yang menyeluruh dengan memberikan pembekalan kepada mahasiswa tentang pentingnya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1045, dan NKRI. 

Program ini membekali mahasiswa di kampus untuk memiliki pengetahuan tentang jati diri sebagai bangsa Indonesia supaya menjadi imun dan tidak mudah terpengaruhi paham radikal, intoleransi, antipluralis, dan diskriminasi.

Dalam konteks inilah, maka pada tanggal 11 Mei 2017, forum perguruan tinggi di NTT mengadakan aksi damai secara serempak untuk menolak radikalisme masuk kampus. Semua perguruan tinggi sepakat untuk melawan setiap bentuk radikalisme, sikap intoleransi, antipluralisme, diskriminasi terjadi di kampus. Kampus harus menjadi tempat bertumbuh suburnya semangat kesatuan dan persatuan, toleransi, kerjasama, saling menghargai perbedaan.

Semoga spirit Harkitnas menjadi semangat dan pilihan dasar (optio fundamentalis) semua anak bangsa untuk menegakkan persatuan dan kesatuan, tetap setia pada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, NKRI. Kiranya keempat pilar kebangsaan ini tetap menjadi fundamen utama membangun kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Komunitas kampus hendaknya menjalankan kegiatan tridharma perguruan tinggi dengan berbasiskan pada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI.

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,alumni MAN Ende,1,AMAN Flobamora,1,AMAN Nusabunga,1,Anies,1,APBN,2,apel gelar pasukan,1,ASDP,1,ASF,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Babi,1,Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo - Flores,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bandara H Hasan Aroeboesman,1,banjir,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,bantuan beras kapolri,1,bantuan rumah,1,bantuan sosial,1,Basarnas Maumere,1,batik,1,Bawaslu,1,Bawaslu Ende,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Benny K Harman,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,BLT,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,8,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,camat nangapanda,1,CFD,1,Citilink,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,31,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Danau Kelimutu,1,Deklarasi,2,demo sopir angkot,1,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dharma Lautan Utama,1,Dihapus,2,Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende,1,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,4,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,3,DPT,2,Dunia,1,Dusun Numba,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,235,Ende lio,1,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Esports Indonesia,1,Esthon Funay,2,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,FKUB ENDE,1,Flores,234,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Ganjar Pranowo,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,Gerindra,1,GMNI,4,GMNI Ende,1,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hari Raya Idul Fitri,2,Hari santri,1,Hate Speech,3,Headline,1494,Hewan Kurban,1,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,HMI Ende,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI,1,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Iptu Yohanes Lede,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,jembatan Uma Sawa,1,Johan Fredikson Yahya,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Julie Laiskodat,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,kades Jegharangga,1,Kadin,2,KAHMI,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,2,Karel Lando,1,Karhutla,1,kasus pidana,1,Kawasan hutan industri,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,2,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,khitanan massal,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,8,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,33,KPK,4,KPU,1,KPU Kabupaten Ende,1,KPU NTT,1,KPUD Ende,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,13,La Nyalla,1,lagi daerah Ende Lio,1,larantuka,2,LDII,1,lebaran ketupat,1,Lembata,574,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,lomba pop singer,1,Lombok,3,Longsor,1,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,madama,1,Madrasah Negeri Ende,1,Magepanda,1,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,makanan kadaluarsa,1,Makar,3,Maksimus Deki,1,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,masyarakat adat,1,Maxi Mari,1,Maxim,2,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mensi Tiwe,2,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,Minyak Goreng,1,Minyak Tanah,1,MK,2,Moeldoko,4,Moke,1,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,muswil VIII Muhammadiyah NTT,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1880,Nasionalisme,25,Natal dan Tahun Baru,3,Nataru,2,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,11,NU,6,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,onekore,1,operasi lilin,1,Operasi Turangga,2,Opini,214,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,46,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Paralayang,1,Pariwisata,4,Pariwisata Flores,1,paroki onekore,1,Partai Berkarya,1,Partai Gerindra,1,partai Perindo,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,pekerja migran,1,Pekerja Migran Indonesia,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Sekosodo,1,Pelangi Nusantara,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilihan Wabup Ende,1,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pemilu 2024,10,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,persatuan bangsa,1,persatuan dan kesatuan,1,persatuan Indonesia,3,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,pesta demokrasi,1,Petani,1,Philipus Kami,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,Pilkades Ende,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKP,1,PKS,2,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,3,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,8,Polri,3,Polsek Detusoko,1,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,PT Asia Dinasti Sejahtera,2,PT Pratama Yahya Abadi,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RD SIPRI SADIPUN,1,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Restorative justice,1,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,RS Pratama Tanali,1,Rumah janda,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,39,Sandiaga Uno,1,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,serbuan vaksin maritim TNI AL,1,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,134,Siklon tropis Seroja,1,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Sriwijaya SJ-182,2,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,83,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,44,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,49,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,9,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Turnamen Futsal,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,UMKM,1,Vaksin Covid-19,3,Vaksin Sinovac,2,Virus Babi,1,Wakil Bupati Ende,2,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,Yohanes borgias Riga,2,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Kampus Harus Bebas dari Radikalisme
Kampus Harus Bebas dari Radikalisme
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgArge41PN994TJsHrUO299ByscJLpCOV_TJ5oehwVLObJ0-6Kdav8RdY7VstwJ5OKIJfPQdiwb522-cUfR257MAwCNWfiZCYK-mYG-O2C97UTxY1EYh5aNZSABgSis8kWZTrXMBX77WAoP/s320/warta+ntt+2.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgArge41PN994TJsHrUO299ByscJLpCOV_TJ5oehwVLObJ0-6Kdav8RdY7VstwJ5OKIJfPQdiwb522-cUfR257MAwCNWfiZCYK-mYG-O2C97UTxY1EYh5aNZSABgSis8kWZTrXMBX77WAoP/s72-c/warta+ntt+2.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2017/05/kampus-harus-bebas-dari-radikalisme.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2017/05/kampus-harus-bebas-dari-radikalisme.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin