wartantt.com – Nampaknya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tengah mengalami amnesia. Selama tiga kali penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres), aturan Presidential Threshod terus meningkat. Pada 2004, aturan PT hanya 15 persen. Lalu, pada 2009 aturan PT meningkat menjadi 20 persen PT. Begitu juga pada 2014, PT masih tetap 20 persen. Artinya, pembahasan PT adalah hal yang lumrah.
Apalagi mengingat SBY bisa menjabat dua
periode karena pembatasan PT. Pada Periode pertama, SBY yang menggandeng
Jusuf Kalla menang dengan batas PT sebanyak 15 persen. Lalu, pada
periode selanjutnya, SBY berpasangan Budiono menang dengan batas PT
sebesar 20 persen.
Namun, dengan adanya pembatasan PT ini,
jumlah pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden
(Cawapres) menjadi sedikit. Pada 2004, terdapat lima pasangan calon.
Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Ahmad Hasyim Muzadi,
Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan
Hamzah Haz-Agum Gumelar.
Pada putaran pertama, SBY-JK unggul dengan 33,58 persen suara atau
meraup 36.070.622. Tempat kedua adalah Megawati-Hasyim dengan perolehan
suara 28.186.780 atau 26,24 persen. Karena tidak ada pasangan yang
meraih suara lebih dari 50 persen pada putaran pertama, dua pasangan
teratas kemudian bertarung di putaran kedua. Hasilnya SBY-JK menang
telak dengan selisih cukup jauh yakni: 69.266.350 (60,62%) melawan
44.990.704 (39,38%).
Selanjutnya, pada 2009 jumlah pasangan
berkurang menjadi tiga pasangan. Dengan berkurangnya pasangan, peluang
SBY pada saat itu terbuka lebar. Pada saat itu, mantan wakilnya, Jusuf
Kalla, berubah menjadi lawan karena maju bersama Wiranto. Satu lawan
lagi yakni pasangan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto.
Meski diikuti oleh tiga pasangan calon,
Pilpres 2009 hanya berjalan satu putaran. Sebab, SBY-Boediono meraih
suara signifikan dibandingkan dua pasangan lawannya. Kala itu,
SBY-Boediono meraup suara 73.874.562 (60,80%), jauh meninggalkan
lawannya Megawati-Prabowo yang meraih suara 32.548.105 (26,79%) dan
JK-Wiranto 15.081.814 (12,41%).
Serta pada 2014, jumlah pasangan menjadi dua pasangan. Jkw-JK dan
Prabowo-Hatta. Dan hasilnya Menetapkan pasangan calon presiden dan
wakil presiden terpilih dalam pemilihan umum capres nomor urut dua
saudara Joko Widodo dan Jusuf Kalla dengan perolehan suara 70.997.833
suara atau 53,15% dari total suara sah nasional.
Saat ini, kedua partai tersebut
menyebutkan hal tersebut lelucon? Saya anggap,keduanya adalah
omongkosong. Sebab, prestasi yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tidak
ada yang bisa mengalahkan. Satu tahun dirinya menjabat, sudah ada 30
pembangunan yang dilaksanakan.
Dengan dinaikannya PT, secara otomatis
akan membuat Partai Demokrat kesulitan untuk mengusung nama presiden
sendiri. Hal ini juga, mengharusnya Partai Demokrat untuk berkoalisi.
Siapa yang mau berkoalisi?
Saat ini, yang membuka tangan dengan lebar
hanyalah Partai Gerindra. Banyak partai yang masih mengusung Jokowi
untuk melanjutkan kepemimpinannya. Dengan berbagai prestasi yang
dilakukan oleh Jokowi, nampaknya sejumlah partai tidak mau gembling
untuk memilih calon baru. Terlebih, presiden boleh menjabat selama dua
periode.
Di sisi lain juga, SBY sedang terjepit
dengan nama Ibas yang mulai terseret kasus Hambalang. Belum lagi, anak
keduanya yang gagal menjadi Gubernur DKI. Jelas, hal ini sangat
mencoreng dirinya sebagai ketua Partai Demokrat sekaligus ayah dari dari
anaknya.
Hal lainnya, adalah sejumlah kasus yang
terjadi mulai terbongkar. Apalagi, saat ini Presiden Jokowi belum
mengambil tindakan atas sejumlah kasus yang terjadi selama 10 tahun
kepemimpinan SBY. Presiden Jokowi, masih fokus untuk memperbaiki
sejumlah proyek makrak di masa SBY.
Jika Jokowi mau, proyek makrak tersebut
bisa dimainkan untuk menurunkan citra SBY. Namun, Jokowi masih belum
bertindak. Diam Jokowi terhadap kasus makrak, hal ini malah membuat SBY
gundah. Dia makin mengorek dan mengkritik kepemimpinan Jokowi. Seakan
masa dirinya adalah masa kejayaan Indonesia. Padahal, tingkah tersebut
wajah SBY terlihat serakah. Serta terserang post power sindrom.
Populariritas SBY juga tengah menurun saat
ini. Untuk itu, SBY seakan sangat berambisi untuk menduduki post-post
pemimpinan sentral. Di DPR, nama-nama anggota Partai Demokrat tidak
menjadi orang berpengaruh. Hal tersebut malah membuat SBY berambisi
terutama pada Pilpres 2019.
Saya cukup aneh, namanya tercoreng bukan memperbaiki kinerja dan
citra. Seakan kesalahan-kesalahan yang terjadi bukan disebabkan oleh
dirinya. Melainkan, dirinya hanya menjadi korban oranglain. Sungguh ini
sebuah drama politik yang sangat lucu. Mungkin melebihi sinetron dari
MNC Grup.

KOMENTAR