Mereduksi Paham Radikal dengan Budaya Tradisional

BAGIKAN:


wartantt.com -- Masih kental dalam ingatan lagu “Gundul-gundul pacul” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Keberadaannya mengingatkan kita pada permainan tradisional yang pernah kita mainkan pada masa kanak-kanak. Kecerdikan Sunan Kalijaga lah yang membuat lagu ini tetap ada hingga saat ini. Beliau menitipkan lagu ini pada anak-anak, sebab anak-anak lah yang dinilai mempunyai kemampuan lebih soal ingatan. Di sisi lain, lagu ini mempunyai sisi filosofis yang mendalam. Kedalaman makna serta pesan tersirat yang dikandungnya dapat memberikan solusi atas paham radikal yang kian berkembang.

 

Makna Lagu “Gundul-gundul pacul”

Kata gundul melambangkan seorang bayi yang masih polos dan belum mempunyai tanggungan apa-apa. Dalam bahasa jawa pacul berarti cangkul. Orang jawa memiliki filosofi tersendiri tentang kata pacul, yaitu papat kang ucul. Maksudnya kemuliaan seorang pemimpin tergantung pada empat anggota tubuh yaitu mata, telinga, hidung, dan mulut.

Mata digunakan untuk melihat kekurangan-kekurangan selama kepemimpinannya. Telinga untuk mendengar keluhan umatnya. Hidung untuk mencium aroma kebaikan, sedangkan mulut untuk memberikan nasehat. Jika keempat anggota tubuh ini digunakan sesuai fungsinya, maka roda kepemimpinan yang dijalankan akan menuai keberhasilan.

Kata gembelengan mempunyai makna bebas melakukan apa saja. Maka gundul gundul pacul cul gembelengan dapat ditafsiri semua bayi yang terlahir di dunia dalam keadaan suci. Segala hal salah yang dilakukannya belum dapat dikatakan sebagai dosa, karena tanggungan itu belum ditimpakan kepada dirinya. Selain itu, dia mempunyai anggota tubuh yang dapat digunakan untuk menjalankan kebaikan.

Selanjutnya arti nyunggi nyunggi wakulkul adalah membawa bakul (tempat nasi) di kepalanya. Bakul sendiri menyimbolkan amanah yang dititipkan kepada seorang pemimpin. Semua kesejahteraan, keamanan, dan kemakmuran umatnya haruslah diletakkan di atas kepalanya. Dengan begitu, segala hal yang tidak berkaitan dengan amanah umat harus dinomor duakan.

 Seorang pemimpin tidak boleh berlaku gembelengan lagi. Maksudnya, dalam menjalankan roda kepemimpinan tidak boleh sembrono atau menganggap permainan belaka. Karena umat telah menimpakan amanah kepada dirinya, dan menjadi hal yang wajib untuk menjaga amanah tersebut.

Namun, jika dia tetap berlaku gembelengan, maka hasilnya wakul glempang dadi sak latar (bakul jatuh dan nasinya tumpah ke tanah). Maksudnya kepemimpinannya akan berantakan dan digantikan oleh berbagai masalah yang muncul dimana-mana.

 

Menyikapi Maraknya Terorisme dan Paham Radikal

Menyikapi kasus terorisme yang marak terjadi, seharusnya kita berdaulat kepada diri kita sendiri. Maksudnya, memikirkan segala sesuatu yang benar-benar bermanfaat, bukan membawa kerusakan. Kita harus menjadi pemimpin yang berhasil bagi diri kita sendiri. Kita tidak boleh terbuai oleh kata provokasi yang menghasilkan pertengkaran, perpecahan, dan retaknya persatuan. Kita harus mempunyai pendirian, bahwa segala sesuatu yang mengatasnamakan kekerasan sebagai jalan keluar, pasti menimbulkan kerugian yang besar.

Sementara itu, ulama yang mempunyai tanggungan lebih untuk memimpin umatnya harus mampu menjaga dirinya. Keberhasilan seorang ulama diukur dari sejauh mana ia membawa kemanfaatan bagi umatnya. Menjaga sikap serta ucapan dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Karena, bagi umatnya dialah sumber idola dan panutan dalam segala hal.

Dalam hal ini, seorang ulama harus memegang erat-erat pacul yang dia gunakan. Dia harus memanfaatkan mata, hidung, mulut, dan telingan untuk menyelesaikan permasalahan dalam diri umatnya. Tentunya, jalan keluar yang dia hasilkan tidak hanya bermanfaat bagi umatnya saja, namun juga bermanfaat bagi semuanya.

Salah satu penyebab kasus bom bunuh diri adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama. Ulama yang berjiwa  dan mengasong paham radikal akan menggiring umatnya ke jalan kekerasan. Menurutnya, serumit apapun maslahnya dapat diselesaikan dengan kekerasan. Paham ini sangatlah keliru, karena dia hanya memandang permasalahan pada satu sisi saja. Dia menganggap kekerasan itu bermanfaat bagi umatnya, karena dengan cara kekerasan itulah umatnya akan mati syahid dan masuk ke dalam surga. Namun, dia lupa memikirkan bagaimana nasib orang yang menjadi tindak kekerasannya. Banyak bangunan yang runtuh, anak-anak menjadi yatim, dan nama baik negara tercoreng.

Seharusnya seorang ulama tidak tergesa-gesa mengambil setiap keputusan. Sebaliknya, perlu dilakukan perenungan serta dialog-dialog yang panjang. Sehingga kepemimpinan yang ia jalankan dapat berjalan sempurna tanpa ada permasalahan yang membuntutinya.

 

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,Anies,1,APBN,2,ASDP,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,batik,1,Bawaslu,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,3,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,CFD,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,9,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Deklarasi,2,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dihapus,2,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,1,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,1,DPT,2,Dunia,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,51,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,Flores,62,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,GMNI,2,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hate Speech,3,Headline,1487,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,Kadin,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,1,Karhutla,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,1,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,4,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,30,KPK,3,KPU,1,KPU NTT,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,11,La Nyalla,1,larantuka,2,LDII,1,Lembata,293,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,Lombok,3,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,Makar,3,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,MK,2,Moeldoko,4,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1879,Nasionalisme,25,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,10,NU,5,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,Opini,211,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,45,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Pariwisata,3,Pariwisata Flores,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,Petani,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKS,1,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,2,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,1,Polri,3,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,11,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,130,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,20,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,39,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,48,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,8,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Mereduksi Paham Radikal dengan Budaya Tradisional
Mereduksi Paham Radikal dengan Budaya Tradisional
https://1.bp.blogspot.com/-SaB9ebtT0ZY/XYGkGbjboWI/AAAAAAAAOWk/BK5UPLW1HT0xt7rl-yBCYsmBXlnAW77cACLcBGAsYHQ/s320/Budaya%2BTradisional.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-SaB9ebtT0ZY/XYGkGbjboWI/AAAAAAAAOWk/BK5UPLW1HT0xt7rl-yBCYsmBXlnAW77cACLcBGAsYHQ/s72-c/Budaya%2BTradisional.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2019/09/mereduksi-paham-radikal-dengan-budaya.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2019/09/mereduksi-paham-radikal-dengan-budaya.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin