Tips Bagi Mahasiswa Baru Agar Tidak Terpapar Paham Radikal

BAGIKAN:


wartantt.com -- Diakui atau tidak, radikalisme sudah menyebar sedemikian rupa ke hampir seluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Sasaran kelompok radikalis zaman now dan zaman old pun turut berubah. Jika dulu radikalisme masih sekedar menyasar pada seorang atau kelompok yang memiliki pemikiran keislaman matang yang semangat beragamanya menggebu-gebu (fundamentalis-tekstualis), namun sekarang, justru mereka mencari “pangsa lain”, yaitu orang yang pemikirannya belum matang. Begitulah kelompok radikalis, selalu membingungkan!

Begitu pun pola gerakan kelompok radikal; selalu berubah, baik basis dan narasinya. Sekarang, gerakan kelompok radikal sudah menyasar ke lini strategis seperti kampus.

Radikalisasi yang sudah menyasar ke kampus-kampus tak hanya terkonfirmasi melalui berbagai survei, namun memang sudah diutarakan oleh berbagai pihak secara langsung. Berkali-kali Harakatuna mendapatkan laporan dari pihak kampus, seperti pengurus BEM dan organisasi mahasiswa, tentang meningkatnya dominasi kelompok radikal di kampus mereka.

Menyikapi laporan demi laporan itu, Harakatuna langsung pasang badan turut terlibat aktif dalam gerakan bersih-bersih paham radikal-teroris di kampus. Berbagai cara telah digelar, salah satunya adalah menggelar seminar tentang keislaman dan kebangsaan guna memberikan pemahaman dan penyadaran kepada mahasiswa.

Pemahaman keislaman yang utuh dan komprehensif menemukan urgensinya untuk diberikan kepadaa mahasiswa agar mereka memiliki pemahaman yang luas dan tidak searah saja. Selain itu juga sebagai salah satu cara untuk melakukan kontra narasi terhadap kelompok radikal yang kian hari kian tak terkendali.

 

Kampus Terpapar Radikalisme

Riset yang dilakukan  Badan Intelejen Negara (BIN) pada tahun 2017 silam menyebut bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. Celakanya, ada tiga universitas yang mendapatkan perhatian khusus mengingat ketiga universitas ini sudah menjadi basis gerakan dan penyebaran paham radikal. BIN tidak menyebut secara spesifik tiga universitas tersebut. Namun, ini cukup menjadi alarm bagi kita semua.

Teranyar, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan 7 perguruan tinggi negeri (PTN) telah disusupi paham radikal, bahkan, hampir semua PTN, dari Jakarta hingga Jawa Timur, terpapar paham radikal dengan tingkat keterpaparan bervariasi.

Kampus terpapar radikalisme bukan sesuatu yang tak perlu mendapatkan perhatian serius. Justru kampus sebagai tempat streaegis karena di sinilah generasi muda dan penerus belajar. Sebagai masa depan bangsa, maka PTN tak boleh terjangkiti virus radikalisme jika tak ingin masa kini dan masa depan Indonesia dalam bahaya.

Berangkat dari survei dan riset sebagaimana diungkap di atas, maka sudah seharusnya pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat, khususnya para stakeholder kampus, melakukan terobosan guna membersihkan kampus dari segala pengaruh paham radikal.

Terlebih pada momentum saat ini di mana saat ini sebagian besar kampus sedang mengadakan gawe besar, yakni penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa baru jangan sampai dicaplok oleh kelompok radikal. Inilah yang harus diwaspadai dan pihak kampus harus bisa memastikan bahwa hal ini tak terjadi.

 

Mahasiswa Baru, Sasasan Empuk Kelompok Radikal

Mengapa mahasiswa baru menjadi sasaran empuk kelompok radikal? Sekalipun mahasiswa baru mayoritas adalah mereka adalah orang-orang pilihan dan memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, namun ketika mereka hijrah ke kota bukan berarti tidak mengalami kesulitan. Dengan penuh keluguan dan kepolosan, seringkali mereka sulit beradaptasi dan salah memilih teman/kelompok.

Dari sinilah perekrutan oleh kelompok radikal itu terjadi. Dengan memanfaatkan keluguan dan kepolosan mahasiswa baru, kelompok radikal mulai masuk dan mempengaruhi pikiran si mahasiswa baru. Secara bersamaan, seringkali organisasi mahasiwa yang dianggap moderat kurang sigap dalam menangkap momentum ini. Walhasil, banyak mahasiwa baru yang jatuh ke pelukan kelompok radikal.

Penelitian LPPM UNUSIA Jakarta membuka mata kita semua bahwa kelompok Islam Ekslusif-Radikalis telah memiliki gerakan yang begitu apik dalam mengkondisikan mahasiswa supaya menjadi bagian dari mereka. Selain mendominasi kegiatan kampus (penguasaan kampus), mereka juga bergerak diluar kampus melalui pengorganisasian kos/Pondokan, Rumah Ngaji, dan Bimbingan Belajar.

Senior-senior dari kelompok Tarbiyah misalnya, turut aktif dalam hal ini dengan cara membuat kos-kosan atau pondokan yang pada taraf tertentu memberi beasiswa dan bimbingan. Jika yang demikian terjadi, lantas mahasiswa baru mana yang tak tertarik?

Ruang-ruang kampus sudah hampir pasti dimasuki oleh kelompok radikal. Seringkali kelompok radikal lebih aktif dan progresif dalam mengurus dan membimbing mahasiswa dibanding kelompok moderat seperti HMI, PMII dan IMM. Inilah yang harus menjadi catatan bagi kelompok moderat agar lebih progresif lagi dalam membimbing dan mengkader mahasiswa baru.

 

Tips Agar Tak Terpapar Paham Radikal

Maba (Mahasiswa Baru) sangat rentang terpapar paham radikal karena usia dan kondisi mereka dalam  masa transisi, mencari atau berusaha menemukan visi dan memiliki ambisi tinggi. Sekali lagi, dalam masa ini, sangat rentang terhadap rayuan dan sejenisnya. Mahasiswa baru yang terpapar radikalisme selalu berawal dari golongan/kelompok yang berada dalam kampus. Biasanya, kelompok ini aktif menghelat forum keagamaan, seperti kajian dan pengajian.

Maka, ada beberapa tips untuk mahasiswa baru agar tak terpapar paham radikal. Pertama, bergabung ke kelompok yang sudah memiliki trackrecord jelas. Kampus adalah ruang terbuka, siapa dan kelompok apa saja bisa masuk ke kampus. Mau idelogi kiri, ada, apalagi ideologi kanan. Di sinilah mahasiswa baru harus benar-benar cermat memilih tempat untuk belajar dan mengembangkan diri. Pilihlah organisasi atau pondok—jika ingin tinggal dipondokan—yang diasuh oleh kyai yang memiliki sanad keilmuan jelas dan memiliki trackrecord yang jelas pula. Karena tempat kita belajar sangat mempengaruhi cara berpikir dan tindakan kita.

Kedua, pemangku kepentingan di lingkungan kampus perlus melakukan pengawasan terhadap mahasiswa. Mahasiswa baru perlu diawasi aktivitas keagamaan yang diikutinya. Tak hanya diawasi, lebih jauh lagi, pihak kampus bisa mengarahkan para mahasiswa baru terkait aktivitas keagamaan yang diikuti.

Fakta lapangan mengatakan bahwa kelompok radikal selalu memanfaatkan mimbar-mimbar keagamaan, terutama di dalam kampus, untuk menyebarkan paham atau ideologinya. Bahkan sampai melakukan cuci otak (brainwashing). Tentu fenemena ini menuntut adanya campur tangan dari pihak kampus itu sendiri.

Ketiga, jangan asal memilih teman. Pintu masuk mahasiswa baru terpapar radikalisme lebih banyak disebabkan karena salah memilih teman. Da sebuah ungkapan begini: Jika engkau ingin melihat agama seseorang, maka lihatlah agama temannya.” Ini artinya adalah, bahwa teman sangat mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang. Jika teman yang Anda pilih adalah simpatisan kelompok radikal, maka besar kemungkinan Anda akan mengikuti jejak yang sama dengan teman Anda.

Oleh sebab itu, bertemanlah dengan orang yang memiliki pemahaman moderat, tidak dikit-dikit mengkafirkan kelompok yang tak sepemahaman. Dan ikutilah kajian keagamaan yang benar-benar mengkaji agama secara mendalam dan komprehensif.

 

 

 

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,Anies,1,APBN,2,ASDP,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,batik,1,Bawaslu,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,BLT,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,3,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,CFD,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,10,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Deklarasi,2,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dihapus,2,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,1,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,1,DPT,2,Dunia,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,52,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,Flores,63,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,GMNI,2,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hate Speech,3,Headline,1487,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,Kadin,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,1,Karhutla,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,1,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,4,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,30,KPK,3,KPU,1,KPU NTT,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,11,La Nyalla,1,larantuka,2,LDII,1,Lembata,296,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,Lombok,3,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,Makar,3,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,MK,2,Moeldoko,4,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1879,Nasionalisme,25,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,10,NU,5,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,Opini,211,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,45,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Pariwisata,3,Pariwisata Flores,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,Petani,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKS,1,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,2,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,1,Polri,3,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,11,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,130,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,20,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,39,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,48,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,8,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Tips Bagi Mahasiswa Baru Agar Tidak Terpapar Paham Radikal
Tips Bagi Mahasiswa Baru Agar Tidak Terpapar Paham Radikal
https://1.bp.blogspot.com/-InaXYZDQO4w/XYhdaHvDxTI/AAAAAAAAOZY/vNZyq6WibWUmF8Bi0na6B39zDnLpJJwrwCLcBGAsYHQ/s320/Tolak%2BRadikalisme.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-InaXYZDQO4w/XYhdaHvDxTI/AAAAAAAAOZY/vNZyq6WibWUmF8Bi0na6B39zDnLpJJwrwCLcBGAsYHQ/s72-c/Tolak%2BRadikalisme.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2019/09/tips-bagi-mahasiswa-baru-agar-tidak.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2019/09/tips-bagi-mahasiswa-baru-agar-tidak.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin