Sumanto Al Qurtuby: Saudi Menjadi Modern, Indonesia Menjadi “Primitif”

BAGIKAN:

Masyarakat Islam Saudi kini telah bergeliat menuju “umat modern”, sementara (sebagian) kaum Muslim Indonesia justru sedang bereuforia menjadi “masyarakat klasik”. 
Oleh: Sumanto Al Qurtuby*

Sejak beberapa tahun terakhir mengajar di sebuah universitas riset di Arab Saudi, saya melihat ada perubahan sosio-kultural-keagamaan yang sangat fundamental di negara-kerajaan ini. Mungkin perubahan ini luput dari pengamatan para peneliti, sarjana, akademisi, jurnalis, maupun pembuat kebijakan publik.
“Wajah kultural” Saudi dulu dan kini sudah sangat berbeda, setidaknya di kawasan urban bukan di countryside atau di “daerah pedesaan”.
Dulu, ketika membicarakan hal-ikhwal yang berkaitan dengan Saudi, kita langsung membayangkan Afganistan di zaman Taliban. Tapi sejak dekade terakhir, banyak perubahan positif dan signifikan di negara yang kini dipimpin oleh Raja Salman.
Perubahan sosio-kultural itu terjadi hampir di semua sektor dan isu: pendidikan, ketenagakerjaan, perekonomian, perbankan, peranan perempuan, tata-busana, bahasa, makanan-minuman, interaksi sosial, persepsi keagamaan, dsb.
Beberapa kali saya mengadakan survei ditambah dengan wawancara dan obrolan dengan ratusan warga Saudi, kesimpulannya juga sama: “wajah kultural” Saudi sedang mengalami perubahan besar.
Sumanto al Qurtuby
Sumanto al Qurtuby

Fenomena menarik 
Ada beberapa fenomena menarik yang bisa dijadikan sebagai alat ukur perubahan sosial ini. Misalnya, dulu tradisi berpakaian disini memang sangat “tradisional”. Yang laki-laki mengenakan jubah putih panjang (thaub) lengkap dengan kain penutup kepala dan kadang-kadang dilengkapi dengan pedang seperti penggunaan keris untuk pelengkap busana bagi orang Jawa jaman dulu. Desain jubah dan penutup kepala ini bermacam-macam. Masing-masing daerah dan suku di Saudi memilki adat dan tata-cara berbusana yang berlainan.
Tapi sekarang pemandangan ini sudah susah didapat, kecuali mungkin di kampung-kampung atau di daerah pinggiran yang belum terjamah oleh globalisasi dan modernisasi. Masyarakat laki-laki Saudi, khususnya generasi tua, sekarang lebih suka mengenakan “jubah nasional” ketimbang “jubah suku” mereka. Sementara kalangan mudanya lebih memilih pakaian kasual seperti jeans, kaos, kemeja, “katok-kolor” alias celana training, dsb.
Yang perempuan juga sama. Dulu, kaum perempuan Saudi, jika di area publik, hanya berbusana abaya hitam gelombor lengkap dengan kain penutup wajah, baik itu bernama niqab, burqa atau khimar. Kini, perempuan Saudi mengenakan bermacam-macam desain dan jenis busana.
Abaya tidak lagi melulu berwarna hitam polos tapi warna-warni (colorful), dan bahkan dilengkapi dengan pernak-pernik bordir yang sangat menawan. “Abaya bordir” yang warna-warni ini menjadi trend perempuan Saudi modern. Bahkan kini banyak desain abaya yang dibuat “slim fit” seukuran tubuh, tidak lagi gelombor ala “jilbab Syahrini”. Menurut murid-murid Saudiku, desain abaya slim fit ini supaya tampak lebih modern, gaul, dan seksi tentunya.
Bukan hanya itu, banyak perempuan Saudi yang kini hanya mengenakan abaya dan hijab (kain penutup kepala) saja tanpa dilengkapi dengan kain penutup wajah, khususnya mereka yang tinggal di Jeddah atau kota-kota metropolitan mini di Provinsi Ash-Sharqiyah. Jika mereka sedang liburan ke manca negara, baik di Arab Teluk (khususnya Uni Emirat Arab) apalagi ke negara-negara Barat, banyak dari mereka yang bahkan tidak mengenakan abaya, apalagi kain penutup kepala dan penutup wajah, melainkan pakai celana panjang “pantalon” atau “busana perempuan modern” lain.
Deena Abdulaziz Al-Saud
Deena Abdulaziz Al-Saud, Salah satu Putri dari Kerajaan Arab Saudi.

Fenomena ini sudah menjadi “rahasia umum”. Tentu saja masih banyak juga yang tetap memelihara tradisi berbusana “ala Saudi” meskipun berada di luar Saudi.
Kebangkitan perempuan
Contoh perubahan sosial lain adalah tentang “gerakan feminisme” yang cukup menggeliat sejak dekade terakhir.
Memang dibanding dengan negara-negara Arab Teluk lain seperti Uni Emirat Arab atau Qatar, Arab Saudi agak terlambat menanggapi isu-isu peranan perempuan ini. Tetapi bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali menyangkut hak-hak kaum perempuan Saudi. Misalnya, sudah sejak Raja Faisal, kaum perempuan mendapatkan kesempatan menuntut ilmu sampai perguruan tinggi, bukan hanya di bangku-bangku madrasah. Saudi bahkan memiliki “kampus perempuan” terbesar di dunia bernama Princess Nora University.
Sejak Raja Abdullah bertahta, kaum perempuan memiliki kesempatan dan posisi lebih besar. Bukan hanya menikmati dunia pendidikan saja tetapi juga kesempatan bekerja di semua sektor publik (kecuali kemiliteran). Bahkan sejumlah perempuan menjadi penggerak dunia bisnis, industri, penerbitan, teknologi, dlsb. Sejumlah elit perempuan juga menjadi anggota “Shura Council” yang bertugas memberi nasehat dan masukan-masukan kepada raja terkait berbagai isu menyangkut pemberdayaan perempuan.
Kolegaku Mark Thompson, spesialis kajian Arab Saudi dari Inggris, menyatakan bahwa kelompok elit perempuan inilah yang berada di balik perubahan sosial menyangkut hak-hak kaum perempuan Saudi.
Mark Thompson telah menulis sebuah buku berjudul Saudi Arabia and the Path to Political Change yang merekam dengan baik proses-proses perubahan sosial-politik-kultural di Saudi.
Peran elit agama dipreteli, polisi syariat dipangkas fungsinya
Wajah keagamaan juga mengalami perubahan besar. Kelompok Islam konservatif-radikal-ekstrimis semakin terisolasi dan kehilangan pengaruh publik.
Sejak mendiang Abdullah bin Abdulaziz Al Saud memegang tapuk kekuasaan dan kendali pemerintahan, baik saat menjadi Putra Mahkota di era Raja Fahd maupun ketika menjadi raja, berbagai reformasi pemikiran dan praktik keagamaan serta kebijakan publik dilakukan untuk mendorong terwujudnya wajah keislaman yang modern, toleran, moderat, dan damai. Beliaulah yang memprakarsai dialog kultural-nasional dengan para tokoh dan komunitas Syiah. Beliau jugalah yang membuka peluang lebar-lebar bagi warga Syiah Saudi untuk bekerja di semua sektor publik.
Beliau juga yang “memereteli” pengaruh dan peran sejumlah elit agama konservatif serta memangkas fungsi “Polisi Syariat” yang dulu sangat dominan mengontrol “kesalehan publik”. Berbagai kebijakan Raja Abdullah tersebut dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan ritmenya oleh Raja Salman saat ini. Sejak beberapa tahun terakhir, Saudi juga memerangi kaum teroris-ekstrimis yang sering berbuat onar dan menganggu stabilitas politik-ekonomi negara.
Putra Mahkota Muhammad Bin Nayef menjadi aktor utama yang memimpin langsung perang melawan “terorisme gobal” dan “kekerasan domestik”. Sehingga dengan begitu tidak memberi ruang secuilpun pada kelompok radikal-ekstrimis untuk berkembang biak dan melampiaskan kekerasan di jalan-jalan dan arena publik lain.
Saudi adalah negara yang sangat mementingkan “keamanan dan kenyamanan nasional” sehingga segala tindakan massa dan “kekerasan sipil” yang dipandang mengganggu atau berpontensi mengancam stabilitas kerajaan dan masyarakat akan ditindak tegas.
Kontras dibanding Indonesia
Sejumlah fenomena perubahan sosio-kultural di Saudi dewasa ini cukup kontras dengan dinamika perkembangan di Indonesia belakangan ini, khususnya sejak lengsernya Presiden Suharto dari kursi kepresidenan. Sejumlah kelompok Islam di Indonesia bukannya menjadi lebih modern, progresif, toleran, dan damai tetapi justru semakin “kolot”, konservatif, intoleran, dan keras.
Wajah keislaman di Indonesia dewasa ini, khususnya di Jakarta dan beberapa kawasan urban, dipenuhi dengan munculnya berbagai ormas Islam ekstrim yang serba anti dengan minoritas agama: Syiah, Ahmadiyah, non-Muslim, dan berbagai sekte agama lain, termasuk agama-agama dan kepercayaan lokal.
Sejumlah aksi kekerasan, verbal maupun fisik, yang dilakukan oleh sejumlah kelompok Islam atas kaum minoritas beserta properti keagamaan mereka juga menjamur di berbagai daerah. “Polisi Syariat” yang sudah dipreteli wewenangnya di Saudi malah berkembang biak di Indonesia, bukan hanya di Aceh saja tetapi juga di berbagai daerah di Jawa Barat, Banten, dan lainnya.
Sejumlah massa dan kelompok sipil yang mengatasnamakan agama dan umat Islam juga bertebaran di sejumlah daerah. Mereka begitu gagah dan “pede”-nya mengaku sebagai “asisten Tuhan” untuk memusnahkan apa yang mereka anggap dan yakini sebagai “kemaksiatan” dan “kemungkaran”.
Fenomena “kekerasan kolektif” yang diprakarsai oleh sejumlah ormas Islam ini “genuine” Indonesia yang tidak pernah saya temukan di Saudi yang memang melarang keras warganya untuk melakukan tindakan kekerasan komunal.
Berbagai elemen ormas Islam dan tokoh-tokoh Muslim juga bereuforia dengan “simbol-simbol keislaman” klasik, termasuk simbol-simbol kebudayaan Arab zaman dulu yang kini sudah ditinggalkan oleh masyarakat Arab kontemporer seperti tradisi tata-busana yang saya sebutkan di atas. Pula, sejumlah umat Islam, khususnya kaum Muslim kota, bereuforia dengan Bahasa Arab yang menurut mereka sebagai “bahasa agamis” dan “bahasa surga” seraya “mengkafirkan” Bahasa Inggris. Padahal di Saudi sendiri (dan juga kawasan Arab Teluk lain), penggunaan Bahasa Inggris kini telah berkembang pesat, bukan hanya di dunia pendidikan saja tetapi juga di sektor bisnis-perekonomian dan komunikasi sehari-hari.
Apakah berbagai fenomena sosial-kultural yang cukup kontras terjadi di kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini menunjukkan bahwa masyarakat Islam Saudi kini telah bergeliat menuju “umat modern”, sementara (sebagian) kaum Muslim Indonesia justru sedang bereuforia menjadi “masyarakat klasik” dan bahkan “komunitas primitif” — khususnya mereka yang hobi melakukan tindakan barbar dan kekerasan? Wallahu ‘alam bi-shawab.

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,alumni MAN Ende,1,AMAN Flobamora,1,AMAN Nusabunga,1,Anies,1,APBN,2,apel gelar pasukan,1,ASDP,1,ASF,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Babi,1,Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo - Flores,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bandara H Hasan Aroeboesman,1,banjir,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,bantuan beras kapolri,1,bantuan rumah,1,bantuan sosial,1,Basarnas Maumere,1,batik,1,Bawaslu,1,Bawaslu Ende,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Benny K Harman,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,BLT,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,8,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,camat nangapanda,1,CFD,1,Citilink,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,31,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Danau Kelimutu,1,Deklarasi,2,demo sopir angkot,1,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dharma Lautan Utama,1,Dihapus,2,Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende,1,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,4,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,3,DPT,2,Dunia,1,Dusun Numba,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,235,Ende lio,1,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Esports Indonesia,1,Esthon Funay,2,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,FKUB ENDE,1,Flores,234,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Ganjar Pranowo,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,Gerindra,1,GMNI,4,GMNI Ende,1,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hari Raya Idul Fitri,2,Hari santri,1,Hate Speech,3,Headline,1494,Hewan Kurban,1,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,HMI Ende,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI,1,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Iptu Yohanes Lede,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,jembatan Uma Sawa,1,Johan Fredikson Yahya,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Julie Laiskodat,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,kades Jegharangga,1,Kadin,2,KAHMI,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,2,Karel Lando,1,Karhutla,1,kasus pidana,1,Kawasan hutan industri,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,2,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,khitanan massal,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,8,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,33,KPK,4,KPU,1,KPU Kabupaten Ende,1,KPU NTT,1,KPUD Ende,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,13,La Nyalla,1,lagi daerah Ende Lio,1,larantuka,2,LDII,1,lebaran ketupat,1,Lembata,574,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,lomba pop singer,1,Lombok,3,Longsor,1,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,madama,1,Madrasah Negeri Ende,1,Magepanda,1,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,makanan kadaluarsa,1,Makar,3,Maksimus Deki,1,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,masyarakat adat,1,Maxi Mari,1,Maxim,2,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mensi Tiwe,2,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,Minyak Goreng,1,Minyak Tanah,1,MK,2,Moeldoko,4,Moke,1,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,muswil VIII Muhammadiyah NTT,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1880,Nasionalisme,25,Natal dan Tahun Baru,3,Nataru,2,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,11,NU,6,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,onekore,1,operasi lilin,1,Operasi Turangga,2,Opini,214,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,46,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Paralayang,1,Pariwisata,4,Pariwisata Flores,1,paroki onekore,1,Partai Berkarya,1,Partai Gerindra,1,partai Perindo,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,pekerja migran,1,Pekerja Migran Indonesia,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Sekosodo,1,Pelangi Nusantara,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilihan Wabup Ende,1,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pemilu 2024,10,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,persatuan bangsa,1,persatuan dan kesatuan,1,persatuan Indonesia,3,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,pesta demokrasi,1,Petani,1,Philipus Kami,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,Pilkades Ende,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKP,1,PKS,2,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,3,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,8,Polri,3,Polsek Detusoko,1,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,PT Asia Dinasti Sejahtera,2,PT Pratama Yahya Abadi,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RD SIPRI SADIPUN,1,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Restorative justice,1,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,RS Pratama Tanali,1,Rumah janda,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,39,Sandiaga Uno,1,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,serbuan vaksin maritim TNI AL,1,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,134,Siklon tropis Seroja,1,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Sriwijaya SJ-182,2,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,83,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,44,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,49,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,9,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Turnamen Futsal,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,UMKM,1,Vaksin Covid-19,3,Vaksin Sinovac,2,Virus Babi,1,Wakil Bupati Ende,2,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,Yohanes borgias Riga,2,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Sumanto Al Qurtuby: Saudi Menjadi Modern, Indonesia Menjadi “Primitif”
Sumanto Al Qurtuby: Saudi Menjadi Modern, Indonesia Menjadi “Primitif”
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXuZaFRii82R9GFiX17Vsjnf1imNk2-OGKojUxvl2ZiYWLDUNzZY-dH0TCo-dw-aHoxBLVZRc2L-i0r1jwL1c21dDTMJSwvYRy9KW7wwmVnHl0RkvBlXvDf6oOtOCBwQ_TdGeni_ofyDlF/s320/2.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXuZaFRii82R9GFiX17Vsjnf1imNk2-OGKojUxvl2ZiYWLDUNzZY-dH0TCo-dw-aHoxBLVZRc2L-i0r1jwL1c21dDTMJSwvYRy9KW7wwmVnHl0RkvBlXvDf6oOtOCBwQ_TdGeni_ofyDlF/s72-c/2.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2017/01/sumanto-al-qurtuby-saudi-menjadi-modern.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2017/01/sumanto-al-qurtuby-saudi-menjadi-modern.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin