(Seword) - Ternyata, Arab Saudi datang ke Indonesia bukan untuk jualan agama, sebagaimana yang dikhayalkan dengan indah masyarakat bumi datar. Jualan agama takkan bisa membantu krisis yang sedang mereka hadapi. Apalagi harga minyak sedang terjun bebas juga kerugian akibat perang melawan Yaman yang sangat membengkak.
Kedatangan Saudi kesini adalah untuk
bisnis. Bisnis adalah alasan mereka datang dengan 1500 orang. Indonesia
dipandang sebagai pasar yang potensial di tengah terpuruknya harga
minyak dunia. Mengapa? Karena konsumsi bahan bakar negeri ini memang
mengerikan. 1,6 juta barrel perhari, bukankah ini angka yang sangat
fantastis, dengan kemampuan mandiri hanya sebesar 800 ratusan barrel
perhari?
Pertanyaan yang selalu menggantung saat
kita membicarakan minyak adalah mengapa kita terus saja tergantung pada
impor minyak? Mengapa kita tidak bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri? Toh, kita punya cadangan minyak kok?
Jawabannya sederhana karena kita tidak
mampu mengolahnya. Kita tidak punya kilang-kilang pengolahan untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri kita. Kita hanya mampu memenuhi separuh
dari kebutuhan nasional.
Lalu pertanyaan berikutnya, mengapa kita
tidak bangun saja banyak kilang-kilang minyak agar bisa memenuhi
kebutuhan dalam negeri?
Sebelum Jokowi jadi Presiden, yang membuat
kita bergantung pada impor adalah keberadaan Petral. Petral adalah
alasan kita tidak bisa membangun kilang pengolahan minyak. Tanya saja
Pak Hatta Rajasa. Sepuluh tahun menjabat sebagai Menteri ESDM tapi enggak bisa juga bangun kilang minyak yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Akhirnya, bergantung pada impor. Ditambah
lagi, impor ini hanya menguntungkan beberapa pihak. Dengan sistem Petral
yang seperti “makelar minyak”, ongkos pembelian pun menjadi membengkak.
Bayangkan saja, selama 3 tahun terakhir, Petral mengantongi uang
sekitar 250 triliun.
Bukankah ini ladang yang amat basah?
Hingga tumpah-tumpah uang negara terbuang begitu saja, akibat keberadaan
Petral ini. Melihat potensi yang menggiurkan ini, tentu siapa yang mau
untuk memutus siklus ketergantungan kita pada impor minyak?
Setiap krikil yang menghalangi aktivitas
Petral akan disingkirkan. Kekuatan uang yang begitu besar, takkan
sanggup untuk melawan duri dalam daging ini.
Mengapa bos Petral sampai ketakutan dengan
kehadiran Jokowi di panggung Pilpres 2014? Karena, kalau Jokowi yang
jadi Presiden, Petral adalah yang pertama jadi sasaran tembak. Dan benar
saja. Setelah terpilih menjadi Presiden, Jokowi langsung membuat Tim
Reformasi Tata Kelola Migas. Perang pun dimulai. Banyak pihak yang
menghadang dari segala sisi. Tapi, Petral harus mengakui bahwa Jokowi
bukan orang sembarangan.
Setelah Petral dibubarkan, dimulailah planning
untuk membangun kilang. Tentu, yang namanya membangun butuh uang.
Sementara pembangunan infrastruktur seperti jalan di Indonesia Timur,
juga Listrik lebih sangat dibutuhkan. Dicari-carilah cara agar dapat
membangun tanpa mengeluarkan uang.
Bukan Jokowi namanya kalau tidak bisa melakukan itu. Toh,
ia juga berhasil membangun rusun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun,
dengan cara memanfaatkan kompensasi kenaikan koefisien luas bangunan
(KLB). Dengan cara seperti inilah Jokowi akan memainkan strategi
cantiknya untuk memutus ketergantungan terhadap impor minyak.
Digandenglah Arab Saudi yang tengah
mengalami krisis. Baik karena harga minyak yang tengah terjun bebas,
maupun kerugian besar akibat perang. IMF sudah memprediksi bahwa 3 tahun
lagi Saudi bakal bangkrut. Tentu, ini sinyalemen yang mengharuskan
Saudi untuk menjalin persahabatan dengan tetangga-tetangganya.
Dibujuklah negera-negara calon investor
untuk membeli sahamnya yang anjlok. Apakah mereka mau? Tentu saja tidak.
Karena tidak ada jaminan sahamnya bakal membaik. Maka, diliriklah
Indonesia sebagai pasar yang kagak ada matinya.
Diberitahukanlah kepada calon investornya bahwa ia punya pasar yang akan
terus membeli minyaknya. Sebuah jaminan yang menggiurkan.
Sepakatlah mereka. Kini giliran bersepakat
dengan Indonesia. Kebetulan, Indonesia juga sedang memerlukan biaya
untuk membangun kilang dalam negeri. Akhirnya, dibuatlah kesepakatan
untuk membuat sebuah perusahaan patungan untuk membangun kilang minyak.
Saudi sediakan uang, dan Indonesia sediakan tempat. Pembelinya sudah
pasti, pasar domestik.
Akhirnya. Deal! Akan dibangun kilang
minyak di Cilacap, Jawa Tengah, dengan nilai proyek sebesar US$ 6 miliar
atau senilai RP 80 triliun.
Kita akhirnya dibuat takjub lagi oleh kecerdasan Presiden kita yang ndeso itu. Gaya boleh kaki lima, tapi otak bintang lima.

KOMENTAR