Menumbuhkan Literasi Agama

BAGIKAN:

Oleh: Fathorrahman Ghufron, Wakil Katib Syuriah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta; Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga


Wartantt.com, OPINI - Dalam sebuah pertemuan terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara (5/4/2017), Prof Nasaruddin Umar—Imam Besar Masjid Istiqlal—menyampaikan salah satu faktor utama maraknya perilaku intoleransi dalam kehidupan masyarakat disebabkan dangkalnya pemahaman keagamaan.

Sikap intoleransi yang mewujud dalam berbagai bentuk, seperti menyesatkan, mengafirkan, membenarkan ajarannya sendiri, dan disertai menyalahkan ajaran pihak lain beririsan kuat dengan rendahnya pemahaman keagamaan. Pemahaman keagamaan menjadi kunci utama yang perlu dibenahi agar bisa memunculkan sikap moderat, toleran, dan progresif. Pertanyaannya, bagaimana merajut sebuah pemahaman keagamaan yang dalam agar dapat menjadi pandu keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat Indonesia?

Merujuk pemikiran KH Mustofa Bisri dalam buku Saleh ritual dan Saleh Sosial: Kualitas Iman, Kualitas Ibadah, dan Kualitas Akhlak Sosial, pemahaman keagamaan tak sekadar mengaitkan ketundukan terhadap Tuhan yang diyakini lalu dimanifestasikan dalam bentuk kesalehan ritual. Secara antromorfik pemahaman keagamaan bisa terejawantah pula ke dalam kesalehan sosial yang dilandasi komitmen saling mengasihi sesama dan menghargai aneka perbedaan.
Dengan demikian, untuk membenahi pemahaman keagamaan yang bervisi antromorfis diperlukan melek agama (religious literacy) yang bisa membingkai berbagai perilaku dan pengetahuan tentang agama secara konstruktif, dinamis, humanis, komprehensif.

Literasi agama
Merujuk pemikiran Dr Abdul Ghaffar Karim—dosen politik dan agama FISIP UGM—bahwa dalam literasi agama yang diperlukan adalah tiga aspek. Pertama, memiliki pemahaman terhadap agama yang dipeluk. Kedua, memiliki pemahaman konteks relasional antara satu agama yang dipeluk dan agama-agama yang lain. Ketiga, memiliki pengetahuan tentang konteks evolusi setiap agama.
Ketiga aspek ini menjadi semacam modalitas sosial untuk menempatkan agama kita di tengah banyaknya agama lain. Baik agama semit yang turun dari langit maupun agama bumi yang dihasilkan dari proses interelasi budaya kehidupan masyarakat.

Ketika seseorang telah menyatakan diri Muslim tentu pada dirinya melekat berbagai informasi dan pengetahuan tentang apa itu Islam. Bagaimana menjalankan ajarannya. Bagaimana menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya.

Akan tetapi, ini tidak cukup untuk menumbuhkan iklim keberagamaan yang mencerdaskan. Kita masih membutuhkan pengetahuan lain yang bisa memberikan pemahaman lebih komprehensif bahwa ajaran dan peribadatan yang dijalankan sebenarnya bermula dari keyakinan agama lain. Salah satu contoh adalah kewajiban berpuasa yang sejak dahulu sudah diwajibkan kepada umat sebelumnya dan diadopsi oleh agama Islam.

Selain itu, kita pun perlu mengetahui bagaimana keberadaan agama kita di antara agama-agama lain yang sudah hadir sebelumnya. Jika kita memahami sebuah riwayat Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa ajaran Islam yang dibawa beliau hanyalah semacam batu bata terakhir yang dipasang dalam sebuah bangunan, maka keberadaan Islam tidaklah menjadi alat untuk menihilkan ajaran agama lain. kehadiran agama Islam sekadar melengkapi sebuah bangunan kepercayaan yang diekspresikan dan dijalankan oleh masing-masing pemeluknya.

Dalam pembacaan ini, maka dalam bingkai pengetahuan agama secara konstrukif, dinamis, humanis, dan komprehensif, kita akan selalu berupaya merajut pemahaman keagamaan secara cerdas dan tak menjadikan pengetahun agama untuk saling menjatuhkan. Selain itu, kita juga akan selalu berusaha mempelajari agama lain sebagai sarana memperkuat pengetahuan keagamaan kita sendiri. Setidaknya kita bisa mengetahui bagaimana memosisikan diri secara arif.

Dengan kata lain, merujuk pandangan Prof Amin Abdullah—guru besar perbandingan agama UIN Sunan Kalijaga— ”untuk menjadi religius, kita harus memiliki pengetahuan lintas agama”. Dalam hal ini, mengetahui agama lain bukan berarti harus masuk ke dalam agama itu, melainkan berusaha memahami dan mengerti ajaran-ajarannya agar menghindari kesalahpahaman yang memicu konflik.
Semangat moderasi dalam menumbuhkan literasi keagamaan demikian akan berdampak pada sikap lebih humanis, yaitu membangun sikap saling memahami secara konstruktif dan dinamis tentang segala hal yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bertukar pikiran tentang praktik keberagamaan inklusif guna memperkuat hubungan sosial keberagamaan yang toleran.

Saling memahami
Dalam kondisi sosial keberagamaan yang menegaskan sikap saling memahami (mutual understanding), kita akan selalu waspada diri untuk mencegah cara-cara otoritarian dan despotik dalam menyampaikan ajaran agama. Kita pun akan selalu melek untuk tidak menyertai berbagai bentuk ujaran yang bernuansa cacian dan makian tentang agama lain hanya karena tidak sama dengan sistem keyakinan kita. Sebab, pola sajian agama yang demikian hanya akan memperbesar kubang perbedaan dan memerosokkan orang dalam pusaran konflik horizontal.

Di samping itu, sesungguhnya puncak dari pemahaman keagamaan yang dalam adalah jika di antara masing-masing orang dan kelompok terlibat dalam sikap saling memahami. Seberapa kuat keinginan kita menganalisasi setiap apa yang kita ketahui dari agama untuk dijadikan suplemen ”saling memahami”, maka di situlah titik tumpu literasi agama itu akan tumbuh dengan baik.

Dari sikap saling memahami ini, yang kita imajinasikan bukan sekadar memperkuat ikatan keumatan secara seragam yang terbangun dalam struktur keberagamaan, melainkan membangun ikatan kewargaan yang beragam yang didorong atas dasar literasi keberagamaan kita.

Dengan kata lain, merujuk pada pemikiran Stephen Prothero dalam Religious Literacy: What Every American Needs to Know and Doesn’t bahwa literasi agama dapat digunakan sebagai pendorong membentuk ikatan kewargaan yang efektif yang menjembatani setiap ruang keberagaman dan menciptakan sikap saling memahami agar satu dengan yang lain bisa hidup berdampingan secara toleran dan inklusif. Dalam ungkapan Prothero, ”we need religious literacy in order to be an effective citizen.”

Pada titik ini, maka dalam pemahaman keagamaan akan tersumbul semacam kesalehan multikultural (multicultural pieties)—meminjam istilah Prothero —yang akan mengerangkai setiap tindak-tanduk keberagamaan yang moderat, toleran, dan progresif—sebagaimana disampaikan oleh Prof Nasaruddin Umar. Selebihnya, kita berharap rangkaian pertemuan Presiden Jokowi dengan para tokoh agama menjadi ruang pembelajaran bahwa yang perlu kita sematkan dalam pemahaman keagamaan adalah literasi keagamaan dalam merajut sikap saling memahami yang menunjang terciptanya kehidupan berbangsa yang damai.

Fathorrahman Ghufron, Wakil Katib Syuriah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta; Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

KOMENTAR

Nama

23 T,1,3 tahun Jokowi-JK,3,4 Tahun,1,4 Tahun Jokowi-JK,15,Agama,2,aksi 313,12,Al Khaththath,1,Alor,3,Alrosa,7,alumni MAN Ende,1,AMAN Flobamora,1,AMAN Nusabunga,1,Anies,1,APBN,2,apel gelar pasukan,1,ASDP,1,ASF,1,Asian Games,6,Asian Para Games 2018,1,Asian Sentinel,1,Asing-Aseng,1,ASN,1,Babi,1,Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo - Flores,1,Bahasa Inggris,1,Bali,1,Bandara,1,Bandara H Hasan Aroeboesman,1,banjir,1,Bank Dunia,3,Banten,1,Bantuan,2,bantuan beras kapolri,1,bantuan rumah,1,bantuan sosial,1,Basarnas Maumere,1,batik,1,Bawaslu,1,Bawaslu Ende,1,BBM,15,BBM 1 Harga,3,Bela Negara,1,Belu,4,Bencana,4,Bendungan,1,Benny K Harman,1,Beragama,1,BI,5,Bilateral,1,Bisnis,1,Blik Rokan,1,Blok Mahakam,1,Blok Rokan,1,BLT,1,Blusukan,1,BMKG,3,BNPT,1,Bogor,1,BPJS,1,BPK,1,BPN,1,BPS,3,Budayawan,1,Bulog,3,Bulutangkis,2,BUMN,3,Bupati Ende,8,Buruh,3,Buya Syafi'i,1,camat nangapanda,1,CFD,1,Citilink,1,coklat gaura,1,coklit KPU,2,Covid-19,31,Cukai,1,Damai,1,dana desa,11,Dana Kelurahan,2,Danau Kelimutu,1,Deklarasi,2,demo sopir angkot,1,Denny Siregar,2,Desa Tiwu Sora,1,Dewan Masjid Indonesia,2,Dharma Lautan Utama,1,Dihapus,2,Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende,1,Divestasi,1,DIY,1,Djafar Achmad,4,Donggala,1,DPR,2,DPRD Ende,3,DPT,2,Dunia,1,Dusun Numba,1,E-KTP,2,Editorial,1,Ekonomi,256,Ekspor,1,Emak-Emak,1,Emas,1,Ende,235,Ende lio,1,Energi,9,ESDM,9,Esemka,1,Esports Indonesia,1,Esthon Funay,2,Fakta & Hoaks,2,fashion show,1,Festival Literasi,1,Festival Sandelwood,1,Festival Sepekan Danau Kelimutu,2,Festival Tenun Ikat,1,Final,1,Fitnah,1,FKMA,1,FKUB ENDE,1,Flores,234,flores timur,2,FPI,1,Freeport,8,Freeport Indonesia,6,Game of Thrones,1,Ganjar Pranowo,1,Gempa,9,Gempa NTB,9,Gempa. Tsunami,1,gereja lidwina,1,Gerindra,1,GMNI,4,GMNI Ende,1,GNPF MUI,1,Golkar,2,Golkar NTT,1,Guru Tidak Tetap Ende,1,Gus Dur,1,Habieb Rizieq,3,Haji,3,Hankam,4,Hanura,1,Hari Kesaktian Pancasila,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hari Raya Idul Fitri,2,Hari santri,1,Hate Speech,3,Headline,1494,Hewan Kurban,1,Hiburan,12,HIV/Aids,1,HMI,1,HMI Ende,1,Hoaks,11,Hoax,14,HTI,49,Hukum,2,HUT HUT ke-73 Bhayangkara,1,HUT RI ke 73,2,HUT RI ke 74,4,HUT TNI,1,HUT TNI ke 73,1,Hutang,2,ICMI,2,Ideologi,18,Idul Adha,2,IMF,5,IMF-WB,1,Imlek,1,Indobarometer,2,Indonesia-RDTL,1,Industri,2,industri kreatif,3,Infrastruktur,153,Internasional,27,intoleransi,1,investasi,9,IPM,1,Iptu Yohanes Lede,1,Isra Mi'raj,1,istana,1,Isu Agama,1,Jalan Tol,1,Jawa,1,Jemaah Haji,1,jembatan Uma Sawa,1,Johan Fredikson Yahya,1,Jokowi,129,Jokowi-Ma'aruf,3,Juara,1,Julie Laiskodat,1,Jurnalisme,1,Jusuf Kalla,2,Kab Sabu Raijua,1,Kabupaten Kupang,6,Kabupaten Sumba Barat Daya,10,kades Jegharangga,1,Kadin,2,KAHMI,1,Kalimantan,1,Kampanye,7,Kampanye Damai,1,Kampus,2,kamtimbas,1,Kapolda NTT,1,Kapolri,2,Karel Lando,1,Karhutla,1,kasus pidana,1,Kawasan hutan industri,1,keamanan,17,Kebakaran,1,Keberagaman,4,Kedaulatan,1,KEIN,2,kejagung,1,Kelautan,4,Kemendagri,1,KEMENDES,1,Kemenkeu,1,Kementan,1,Kemiskinan,8,kepala daerah,1,Kepala Desa,2,Kerukunan,1,Kesatuan,1,Kesehatan,2,Khilafah,1,khitanan massal,1,KII,1,KKP,1,KNPI,1,Kodim 1602/Ende,8,Komunis,1,Korupsi,5,Korupsi E-KTP,1,Kota Kupang,33,KPK,4,KPU,1,KPU Kabupaten Ende,1,KPU NTT,1,KPUD Ende,1,Krisis,2,Krismon,1,KSP,4,KTT ASEAN,1,kupang,13,La Nyalla,1,lagi daerah Ende Lio,1,larantuka,2,LDII,1,lebaran ketupat,1,Lembata,574,Lingkar Madani,1,Listrik,9,Lomba Cipta Puisi,1,lomba pop singer,1,Lombok,3,Longsor,1,LSI,1,Luar Negeri,6,Luhut Binsar Panjaitan,1,Lukman Hakim,1,Maáruf Amin,5,madama,1,Madrasah Negeri Ende,1,Magepanda,1,Mahasiswa,3,Mahfud MD,2,makanan kadaluarsa,1,Makar,3,Maksimus Deki,1,Malaysia,1,Manggarai,5,Manggarai Barat,18,Manggarai Timur,5,Maritim,1,Masjid,1,masyarakat adat,1,Maxi Mari,1,Maxim,2,Medan,1,Media,1,Media Sosial,8,Medsos,2,Mendagri,3,Mendikbud,1,Menhan,2,Menhub,1,Menkeu,2,Menkopolhukam,1,Menlu,1,Mensi Tiwe,2,Mentan,1,Menteri Agama,1,Milenial,2,Mimbar Agama,1,Minyak,1,Minyak Goreng,1,Minyak Tanah,1,MK,2,Moeldoko,4,Moke,1,Mosalaki,1,MPR,2,MTQ,1,Mudik 2018,17,MUI,4,Muslim,1,muswil VIII Muhammadiyah NTT,1,Nagekeo,24,narkotika,1,nas,1,Nasional,1880,Nasionalisme,25,Natal dan Tahun Baru,3,Nataru,2,Nawacita,3,Ngabalin,2,Ngada,7,No Golput,1,NTB,3,NTT,11,NU,6,Nusa Tenggara Timur,11,nyepi,1,objektif,1,OECD,1,OJK,1,Olahraga,13,Ombudsman,1,onekore,1,operasi lilin,1,Operasi Turangga,2,Opini,214,Osis,1,Otomotif,2,OTT,1,outsourcing,1,Palestina,2,Palu,5,PAN,1,Pancasila,46,Pangan,5,Panglima TNI,1,Papua,25,Papua Barat,1,Paralayang,1,Pariwisata,4,Pariwisata Flores,1,paroki onekore,1,Partai Berkarya,1,Partai Gerindra,1,partai Perindo,1,Pasar,2,pasar modal,1,Paspampres,1,pekerja migran,1,Pekerja Migran Indonesia,1,Pekerjaan,1,Pelabuhan,1,Pelabuhan Sekosodo,1,Pelangi Nusantara,1,PELITA,1,pelukan,1,Pembangunan,2,pemilihan Wabup Ende,1,pemilu,2,Pemilu 2019,27,Pemilu 2024,10,Pencak Silat,1,Pendidikan,7,Pengangguran,3,Penguatan Pancasila,1,Perbankan,1,Perbatasan,7,Perdagangan,2,Perdamaian,1,Perhubungan,1,Perikanan,6,Perintis Kemerdekaan,1,Perlindungan Pekerja Migran,2,Perppu Ormas,8,Persatuan,6,persatuan bangsa,1,persatuan dan kesatuan,1,persatuan Indonesia,3,Persija,1,Pertamina,1,Pertanian,19,Pesantren,1,pesta demokrasi,1,Petani,1,Philipus Kami,1,Piala,2,Pidato Jokowi,1,Pilbup,1,Pileg 2019,1,pilkada,6,Pilkada NTT 2018,23,Pilkada NTT 2019,1,Pilkades,1,Pilkades Ende,1,PIlpres,3,Pilpres 2019,18,Pilres 2019,5,PKI,2,PKP,1,PKS,2,PLAN,1,Pluralisme,1,PMII,1,PMKRI,3,PNS,1,Poling,1,Politik,68,Polres Ende,8,Polri,3,Polsek Detusoko,1,PP Muhammadiyah,3,Prabowo,5,prakiraan cuaca,1,Pramono Anung,1,Presiden,2,Presiden Bank Dunia,1,Proyek Mangkrak,1,Proyek Pembangunan,1,Proyek Strategis,1,PT Asia Dinasti Sejahtera,2,PT Pratama Yahya Abadi,1,Pulau Saugi,1,pupuk,1,Puting Beliung,1,PWI,1,radikal,2,radikalisme,45,Ramadhan,4,Ratna Sarumpaet,2,RD SIPRI SADIPUN,1,RDTL,1,Regional,4,Registrasi SIM Card,1,Rekonsiliasi,10,Restorative justice,1,Reuni Alumni 212,4,RISSC,1,Rizieq Shihab,2,Rohingya,11,Rote Ndao,2,RRI Ende,1,RS Pratama Tanali,1,Rumah janda,1,Rupiah,12,Sabu,1,Sabu Raijua,92,Sandiaga Uno,1,SARA,7,SBY,2,SDA,1,SDM,1,Sejahtera,1,Sekjen PBB,2,Seleksi CPNS,1,Sengketa Lahan,2,seni,1,Sepak,1,Sepak Bola,3,serbuan vaksin maritim TNI AL,1,Sertifikat,3,Seskab,1,Setara Institute,1,Sidang Ahok,7,Sikka,134,Siklon tropis Seroja,1,sleman,1,SMA/SMK,1,Sontoloyo,1,SOSBUD,52,Sosial Budaya,82,Sri Mulyani,6,Sriwijaya SJ-182,2,Stadion Marilonga,1,Startup,1,STKIP Simbiosis,1,STPM St. Ursula,1,Subsidi,1,subversi,1,Sulawesi Selatan,1,Sulawesi Tengah,10,Sumba,83,sumba barat,6,Sumba Barat Daya,168,sumba tengah,44,Sumba Timur,18,Sumpah Pemuda,2,survei,3,Susi Pudjiastuti,2,Tanah,1,TBC,1,Teknologi,14,Tenaga Kerja,1,tenun,1,Ternak Tani,1,terorisme,9,TGB,2,Timor,13,Timor Tengah Selatan,49,Timor Tengah Utara,2,Tito Karnavian,1,Tjhajo Kumolo,1,TKI,1,TNI,2,Tokoh,2,Tol,3,Tol Suramadu,1,toleransi,2,tour de flores 2017,2,transparan,1,Transparansi,1,transportasi,9,Travel,7,Tsunami,8,TTU,1,Turki,1,Turnamen Futsal,1,Twitter,1,Uang NKRI,1,uang palsu,1,UI,1,Ulama,1,Umat,1,UMKM,1,Vaksin Covid-19,3,Vaksin Sinovac,2,Virus Babi,1,Wakil Bupati Ende,2,Walikota,1,Wapres,1,Wiranto,4,World Bank,2,World Peace Forum,1,Yenny Wahid,4,yogyakarta,1,Yohanes borgias Riga,2,zakat,1,
ltr
item
Warta NTT: Menumbuhkan Literasi Agama
Menumbuhkan Literasi Agama
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuRrm36z9Bs91xbgAdO6yhFNkZAndauYh7fJmBOCqNJRH831CnNckpg0Z-gi3auNCUIa4Tf4y5Z0ncg3T_wQ6trdyx7lO8ikxhPsLXv3WpNYthoHCDugZ8ACSgLKAjpOqk5hTCWO4axu7L/s320/431945_getattachment61839afb-e895-497f-90ee-e562474e9e02423332.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuRrm36z9Bs91xbgAdO6yhFNkZAndauYh7fJmBOCqNJRH831CnNckpg0Z-gi3auNCUIa4Tf4y5Z0ncg3T_wQ6trdyx7lO8ikxhPsLXv3WpNYthoHCDugZ8ACSgLKAjpOqk5hTCWO4axu7L/s72-c/431945_getattachment61839afb-e895-497f-90ee-e562474e9e02423332.jpg
Warta NTT
http://www.wartantt.com/2017/04/menumbuhkan-literasi-agama.html
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/
http://www.wartantt.com/2017/04/menumbuhkan-literasi-agama.html
true
7634889450117025147
UTF-8
Semua berita termuat Berita tidak ditemukan LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal membalas Hapus Oleh Beranda HALAMAN BERITA Lihat Semua REKOMENDASI LABEL ARSIP CARI SEMUA BERITA Tidak ada berita yang sesuai dengan permintaanmu Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ hari yang lalu $$1$$ minggu yang lalu lebih dari 5 minggu yang lalu Pengikut Ikuti KONTEN INI PREMIUM Tolong bagikan untuk membuka Salin Semua Kode Pilih Semua Kode Semua kode telah disalin di clipboard-mu Tidak bisa menyalin kode, tolong tekan [CTRL]+[C] (atau CMD+C dengan Mac) untuk menyalin